Wise People Never Stop Learning


               Pernakah saudara mendengar tentang “karunia menikmati”. Yah kalau belum pernah dengar  istilah tersebut , itu sesuatu yang wajar karena istilah tersebut tidak tercatat di Alkitab. Istilah “karunia menikmati” adalah sebuah istilah dari dosen saya ketika di ruang kelas. Namun setelah mendengar penjelasannya, jika dipikir-pikir ada benarnya juga. Dia menceritakan, ketika dulu belum mempunyai mobil, dia diantar oleh supir tetangganya yang mempunyai mobil beserta dengan anak-anaknya karena anak tetangganya satu sekolahan dengan anaknya. Namun kadangkala tetangganya yang memiliki mobil itu harus terpaksa naik kereta api supaya menghindari macet dan tiba di kantor dengan tepat waktu. Ini yang dinamakan “karunia menikmati”, tak punya barang tapi bisa menikmati fasilitas tersebut, sedangkan ironisnya yang mempunyai barang tidak bisa menggunakannya secara optimal.

       Dalam bacaaan kita, Pengkhotbah menegaskan demikian: “orang yang dikarunia Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan satupun yang diinginkannya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya” . sungguh sesuatu yang ironis, memiliki tanpa menikmati.

            Di internet, saya membaca sebuah reflesksi singkat demikian:
Anda bisa membeli tempat tidur yang empuk tapi Anda tidak bisa membeli terlelap
Anda bisa membeli alat olahraga tapi Anda tidak bisa membeli kesehatan
Anda bisa membeli arloji  mewah tapi Anda tidak bisa membeli waktu, dan lain sebagainya.

        Pada intinya kita dapat membeli sesuatu yang mahal sekalipun, namun untuk apa jika kita tidak dapat menikmatinya. Di sini Pengkhotbah mau menegaskan bahwa hidup ini adalah karunia Allah semata, yang kaya bisa saja tidak dapat menikmati  kekayaannya dan yang miskin bisa saja menikmati sesuatu dengan sukacita.

          Saya menutup renungan ini dengan sebuah cerita. Pada suatu hari sang Raja yang mengalami gangguan tidur  dan ia ingin pergi berjalan menyusuri hutan bersama dengan para pengawalnya. Sesampainya di hutan mereka menemukan seorang bapak tua sedang terlelap puas dengan kapak  dan potongan kayu di sampingnya. Sang raja mencoba membangunkannya beberapa kali. Akhirnya si bapak tua bangun dan dengan kaget melihat rombongan raja di depannya. Raja pun bertanya kepada si bapak, apa yang membuat Anda tidur begitu lelap. Si bapak itu menjawab bahwa dia hanya berusaha untuk beristirahat setelah memotong beberapa pohon sebagai kayu api, dan ini yg dilakukannya setiap hari.


         Dari kisah ini, kita belajar bahwa sang Raja walaupun kaya dan memiliki tempat tidur yang empuk dan nyaman tapi dia tidak bisa memiliki kepuasan dalam tidur, sebaliknya si bapak tua yang miskin dapat menikmati tidurnya di tengah hutan dengan lelap. Dalam hidup ini persoalannya bukan soal kaya atau miskin, persoalannya kita menikmati hidup yang Allah anugerahkan atau tidak. Hidup adalah anugerah, jalani saja, mungkin kita diberi “karunia menikmati” dari Tuhan.


          Kisah tentang “Orang Samaria yang Murah Hati” adalah sebuah kisah yang sudah sering kita dengar. Kita pun tahu bahwa tokoh utama  dalam kisah itu adalah si Samaria yang Murah Hati itu. Yah memang benar, Yesus sengaja mengambil sosok si Samaria yang  dianggap asing bagi kaum Yahudi untuk menjelaskan kepada si ahli Taurat yang bertanya kepada-Nya tentang siapakah sesama manusia. Dalam cerita ini pun yang menjadi inti pesan adalah menjadi sesama manusia bagi yang membutuhkan pertolongan di saat mereka mengalami kesulitan. Tidak peduli bangsa mana kita, golongan mana atau agama mana, setiap manusia adalah berharga di mata Allah.

          Dalam cerita ini juga ditunjukan beberapa tokoh selain orang Samaria yang murah hati, seperti, seorang imam, dan seorang Lewi. Namun ada satu tokoh yang kurang mendapat perhatian, yakni si pemilik penginapan (ay 35). Yah memang si pemilik penginapan seperti pemeran figuran yang kurang penting peranannya dalam sebuah cerita film. Di ayat 36 Yesus pun bertanya “Siapakah diantara ketiga orang ini...(Si Imam,  Si Lewi, dan Si Samaria) si penjaga penginpan rupanya tidak masuk hitungan. Untuk itulah kita dapat belajar dari si pemeran figuran ini. Si pemilik penginapan itu mendapat tugas untuk merawat dari si Samaria.

          Kata merawat disini berasal dari bahasa Yunani epimeletheti yang berarti memelihara/merawat. Memelihara/merawat ini adalah tugas yang serius bagi gereja/orang percaya. Kita diberi tugas dari Allah seperti si Samaria yang baik hati itu memberi tugas kepada sang pemilik penginapan untuk merawat orang yang dirampok habis-habisan dan dipukuli setengah mati.

         Di sekeliling kita, jika diperhatikan, banyak orang yang mengalami kesulitan hidup sekarang ini. Mulai dari kesulitan keuangan, kesulitan bersekolah, kesulitan mencari pekerjaan dan berbagai kesulitan hidup lainnya.

        Pertannyaannya, apakah kita hanya terkagum-kagum dengan melihat kemurahan hati si Samaria dalam kisah ini ataukah kita mau  mengambil peran kecil (figuran) seperti si pemilik penginapan dengan memilhara dan merawat apa yang menjadi tugas kita. Tugas gereja/orang percaya adalah merawat dan membalut orang yang terluka oleh berbagai kesulitan hidup dan juga memelihara kehidupan.


             
 
Manusia itu memang cenderung suka mencari tahu sesuatu yang sebenarnya bukan tentang dirinya sendiri atau tidak penting untuk dirinya sendiri. Ini yang disebut kepo oleh anak-anak sekarang. Kalau sudah kepo atau tentang sesuatu maka hal itu akan menjadi perbincangan yang seru di antara beberapa orang dalam suatu kelompok. Ini yang disebut gosip oleh mak-mak sekarang.

Dalam bacaan kita, dapat dilihat bahwa ada yang jadi kepo dan ada komunitas bergosip. Di ay. 21 Petrus kepo dengan murid yang dikasihi Yesus tentang apa yang akan dengan murid itu. Namun menarik ketika kita melihat jawaban Yesus di ay.22. Ia tidak memberikan jawaban yang jelas sehingga rasa kepo dari Petrus terbayarkan, namun Dia menekankan supaya Petrus dapat fokus mengikutiNya. Tertulis “Tetapi engkau ikutlah Aku”.

Dari jawaban Yesus ternyata disalahtafsirkan oleh “saudara-saudara” itu bahwa murid itu tidak akan mati (ay.23). Di sinilah kita melihat betapa cepat orang menyimpulkan sesuatu padahal itu bukan inti pesannya. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari di sini.

1) Kita lebih sibuk dengan urusan orang lain sehingga kita lupa akan tanggungjawab dan panggilan kita. Petrus kepo dan bertanya tentang orang lain (murid yang dikasihi Yesus) tapi lupa akan panggilan dan tanggungjawabnya untuk mengembalakan domba–domba  milik Tuhan (ay. 15-19) makanya kepo Petrus ditanggapi oleh Yesus dengan mengatakan “itu bukan urusannu”.

2) Menyebarkan kabar simpangsiur atau yang kini dikenal dengan istilah hoax. Ay.23 “maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu”. Pertanyaannya siapa yang menyebarkannya? Jawaban ini memang tidak ditemukan dalam bacaan kita. Namun perlu kita ingat bahwa kebanyakan penyebar berita-berita simpangsiur (hoax) biasanya tak nampak identitasnya namun berita itu menjadi sesuatu yang hangat untuk diperbincangkan. Padahal kebenaran dari berita itu sangat diragukan. Jika itu yang terjadi maka itu disebut gosip.

Dari kisah ini kita belajar untuk menyadari tanggungjawab dan panggilan yang lebih penting dibandingkan kepo terhadap orang lain yang tidak mendatangkan manfaat baik bagi kita. Berikutnya kita menjadi orang yang dapat menangkap inti pesan dari sebuah berita sehingga dapat menyebarkan kabar yang baik dan benar juga. Hati-hati. jika kita mulai kepo nanti ditegur Tuhan dengan berkata tegas kepada kita “Itu bukan urasanmu”









Apa yang ada di pikiran kita jika kita membaca kisah dalam Yohanes 4:1-42 tentang perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub. Barangkali yang ada di pikiran kita adalah perempuan itu seorang pelacur. Memang benar bahwa perempuan itu bisa dikategorikan sebagai seorang pelacur, sebab banyak lelaki yang hidup dengannya dan tak tahu suami sah yang ia miliki. Ini adalah suatu persoalan yang kita temui dalam bacaan kita.  

Namun di sisi lain ada lagi beberapa persoalan selain itu, yakni yang bertemu dengan Yesus adalah seorang perempuan. Di jaman hidup patriakhal seperti itu perempuan dianggap “lebih rendah” keberadaannya dibanding laki-laki, atau bisa dikatakan tidak masuk hitungan. Ini dapat kita bandingkan dengan kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, yang dihitung hanya lelaki saja, sedangkan perempuan dan anak-anak tidak masuk hitungan. Hal yang lain yaitu kesaksian perempuan itu tidak bisa dipercaya dalam budaya setempat.

Ini tentunya merupakan sesuatu yang aneh jika Yesus dapat berbincang dengan perempuan itu. Hal ini akan menjadi buah bibir dalam masyrakat. Perempuan itu menyadari status dirinya, makanya ia enggan bertemu dengan orang banyak. Dia pergi ke sumur pada pukul 12 siang di saat tidak ada lagi orang mengambil air, karena biasanya orang mengambil air pada pagi hari.
Persoalan berikutnya adalah statusnya sebagai seoarang Samaria, yang mana orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (ay.9). Yesus yang adalah seorang Yahudi mau merubah kebiasaan itu dengan mau berbincang dengan perempuan Samaria itu. Singkatnya dari kisah ini Yesus memberitakan kabar keselamatan bagi perempuan tersebut dan ia pun menjadi saksi bagi orang Samaria yang lainnya dan mereka percaya dengan sungguh bahwa Yesus benar-benar Juruselamat dunia (ay.42).

Ada beberapa hal yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari kisah ini:

1) Yesus mengubah Sekat Tradisi
Yesus mengubah sekat tradisi dan memberikan nilai kemanusiaan yang lebih pada perempuan Samaria itu betapapun keadaannya. Walaupun dia seorang perempuan, pelacur, apalagi dari Samaria namun Yesus tetap melihatnya sebagai pribadi yang berharga. Kita pun demikian, Yesus tetap menganggap kita sebagai seoarang yang berharga apapun  keadaan kita, status kita, persoalan kita. Asal kita mau datang kepada Yesus dan mengatakannya secara jujur.

2) Yesus Mengasihi Tanpa Batas
Jika dalam kehidupan biasanya orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria, bahkan dengan ekstremnya mengatakan orang Samaria dengan sebutan anjing maka Yesus memberi teladan yang berlawanan dengan itu. Yesus mengasihi tanpa batas, apakah dia kafir, atau sesama agama. Apakah dia Yahudi atau Samaria, Kristen atau tidak, Yesus tetap mau mengasihi kita umat manusia.

3) Yesus Mengubah Kehidupan
Perempuan Samaria tadinya enggan bertemu banyak orang karena status hidupnya, kini setelah bertemu dengan Yesus, perubahan besar terjadi. Dia pergi ke kota untuk bersaksi tentang Yesus (ay. 28-29) .
Mari datang kepada Yesus dengan dengan rendah hati dan membawa segala persoalan hidup kita, Yesus mau mendengarnya dan mengubahkan hidup kita.