Wise People Never Stop Learning

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (Lukas 2:11)

Joseph Mohr, pengarang syair lagu ini lahir di Salzburg, Austria, tahun 1792. Selagi masih anak muda ia sudah menyanyi di gereja katedral di kota kelahirannya itu. Tahun 1815 ia sudah diangkat menjadi imam di gereja Katolik dan melayani beberapa jemaat di wiliyah itu.

Pastor Mohr dan Franz Gruber, guru menyanyi dan pemain organ di kota itu sering membicarakan bahwa belum ada nyanyian Natal yang baik. Pada suatu kali menjelang Natal organ di gereja mereka rusak dan tidak dapat dipakai pada perayaan yang sudah dekat itu. Pastor Mohr memutuskan akan mengusahakan satu lagu baru yang tidak usah diiringi dengan organ. Dengan demikian diharapkan jemaat tidak akan kecewa karena merayakan Natal tanpa organ.

Setelah selesai mengarang syairnya, Pastor Mohr membawanya ke Franz Gruber. Begitu melihat syair itu, dengan suara gembira ia mengatakan: “Saudara Mohr, ini dia! Ini nyanyian yang pas untuk Natal, puji Tuhan” segera Franz Gruber menulis melodinya yang cocok sekali dengan jiwa syairnya. Berdua mereka menyanyikan lagu yang baru itu, diiringi dengan gitar di tangan Gruber. Seluruh jemaat terharu mendengar lagu itu, sederhana tetapi merdu sekali dan menyentuh hati dan jiwa.

Pastor Mohr dan Franz Gruber gembira dapat membuat hati anggota jemaat mereka bahagia. Tidak terpikir bagi mereka bahwa lagu itu akan meluas. Tatapi Karl Maurachen, yang datang memperbaiki organ gereja itu minta satu lembar dari lagu itu dan tak lama kemudian sudah tersebar di seluruh wilayah Tirol. Sesudah itu sekelompok paduan suara anak memperkenalkannya di seluruh Austria dan Jerman. Sekarang seluruh dunia memakai lagu itu dan sudah menjadi lagu yang selalu dinyanyikan pada perayaan Natal di seluruh dunia.


(Dikutip dari buku Dr. Alfred Simanjuntak “Kisah Kidung”)

Elegi Seorang BASETA

Kesombonganmu mengatasi langit
Walau bumi menjadi pijakanmu
Hikmatmu selalu ingin didengar
Walau terkadang ditertawai sinis

Langkahmu berjalan menuju kekosongan
Dan lidahmu sebagai senjata pemanis
Pengetahuanmu begitu ajaib
Seakan seisi dunia berada dalam otakmu

Apa yang tidak kamu tahu?
Siapa yang tidak ingin mendengarmu?
Sungguh hebat wahai sobat, semua buatan tanganmu
Kini ijinkanlah aku menyapamu BASETA
Yah, engkalauh BASETA
Engkaulah Bapa Segala Tahu



TAK ‘KU TAHU ‘KAN HARI ESOK

YAKOBUS 4:13-17

Memasuki tahun baru banyak orang yang ingin membuat suatu komitmen, baik terhadap dirinya sendiri atau kepada orang lain. Hal ini juga disebut dengan istilah resolusi tahun baru. Biasanya orang melakukan resolusi tahun baru di bulan Januari. Mengapa bulan Januari? Karena bulan Januari adalah bulan pertama untuk mengawali tahun.

Bulan Januari ternyata memiliki cerita tersendiri. Januari yang dalam bahasa Inggris January berasal dari bahasa Yunani ‘Janus’. Menurut kepercayaan orang Romawi, Janus adalah dewa berwajah dua atau juga disebut dewa permulaan. Wajah yang satu menghadap ke tahun yang lalu dan wajah yang lain menghadap ke tahun yang baru. Singkatnya Janus adalah dewa permulaan yang menghubungkan tahun yang lalu dan masa yang akan datang. Itulah mengapa bulan Januari dianggap sebagai moment untuk melakukan resolusi setelah natal melakukan refleksi.

Tentunya sebuah rencana sudah disusun sebaik mungkin sebelumnya oleh setiap orang untuk mencapai targetnya di tahun yang baru. Namun kita perlu belajar dari Yakobus jika kita berbicara mengenai rencana. Yakobus 4:13 memberikan kita sebuah imajinasi tentang orang yang merencanakan sesuatu. Rencana itu dirancang secara jelas. Mengenai hari, tempat tujuan, berapa lama tinggal, untuk apa tinggal, dan apa yang ingin dicapai. Jelas bahwa ini merupakan perencanaan yang matang. Menjadi pertanyaan untuk kita ialah apakah salah jika kita merencanakan sesuatu?

Merencanakan sesuatu jelas bukan merupakan hal yang salah, yang salah ialah jika kita merencanakan sesuatu dan melupakan atau tidak melibatkan Tuhan di dalamnya. Mengapa hal tersebut salah? Inilah pertanyaan yang penting. Menjadi suatu kesalahan  jika tidak melibatkan Tuhan dalam rencana kita karena Tuhanlah yang berkuasa atas hidup kita; Dialah penyelenggara hidup ini. Kita adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan (ay.14). kita tidak tahu akan hari esok, seandainya kita tahu, kita pun tidak dapat menguasinya. Hidup kita bagaikan uap di mata Tuhan yang berkuasa.

Yakobus jelas memberikan peringatan serta teguran bagi orang-orang yang merasa diri ‘hebat tanpa Tuhan’. Mengawali sesuatu yang baru dan penuh dengan misteri hidup, tentunya kita membutuhkan pegangan hidup yang kuat. Biarlah Tuhan yang memegang dan menuntun hidup kita dalam mengawali tahun yang baru ini. Biarlah Tuhan sendiri yang berencana di atas setiap rencana-rencana kita. Dengan ketetapan hati dan mempercayakan kehidupan kita sepenuhnya kepada Tuhan, maka marilah kita menyanyikan dan merenungkan PKJ 241 sebagai penguatan iman.

Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok
Namun langkahku tegap
Bukan surya kuharapkan
Karena surya kan lenyap
O tiada ‘ku gelisah
Akan masa menjelang
‘Ku berjalan serta Yesus
Maka hatiku tenang
Reff:
Banyak hal tak kufahami
Dalam masa menjelang
Tapi t’rang bagiku ini
Tangan Tuhan yang pegang

LANGKAHKU

Fajar pagi telah hadir mengusir pekatnya malam
Bersama harapan mengajak langkah
Menepis keraguan bersama angin
Meski gelora hati terus berlanjut

Langkah kecil akan kuayun
Hingga lelah kuberteriak
Tiada teman menemani
Namun di hati tetap kau hadir

Bersama doa aku menghilang
Bersama rindu aku kembali
Seakan semua misteri hidup berpadu
Antara kelamnya masa lalu
Dan indahnya masa depan

Ada waktu mengawali bersama
Ada waktu mengakhiri sendiri
Di kotamu kuhadirkan sejuta tawa
Walau mungkin batin terluka

Semoga kau ditemani senyumku
Walau dalam khayal dan mimpi
Dalam balutan rindu yang terpendam
Biarlah cintamu meredam kisah berlanjut.


KASIH TUHAN YESUS

1) KasihMu Tuhan Yesus
Kepada diriku
Melebihi Samudera
Kurasa dalamnya

2) Oh betapa diriku
Berulang bercela
Kasihmu terungkaplah
Dalam anugrahMu

        3) Ku mau hidup bagiMu
          Oh Yesus Tuhanku
          Tolonglah aku Tuhan
           Kuatkan imanku



Jogja kota pelajar, slogan ini hampir sudah diketahui oleh sebagian besar orang Indonesia. Selain kota pelajar Jogja juga  disebut kota seniman. Kalau ditanya, Jakarta kota apa? Maka mungkin kita dengan bervariasi memberikan jawaban. Ada yang mungkin bilang ‘Jakarta itu kota banjir’ (gara-gara si komo lewat kali), atau mungkin ada yang bilang ‘Jakarta itu kota macet’.  Gimana nggak macet, kendaraan bermotor banyak banget. Jangankan kemacetan kendaraan, jalan kaki saja bisa macet. Ini saya sendiri alami ketika pergi ke gereja, namun sebelum sampai tempat tujuan jalanan macet. Saya pun bergegas turun untuk berjalan kaki dengan cepat. Hasilnya memang saya tiba di gereja persis ibadah akan dimulai, namun dengan keringat yang cukup banyak terkuras.  Apalagi yang macet di Jakarta selain kendaraan?  Bernapas! Lho, kok bernapas? Bernapas memang aktivitas yang sering dilakukan manusia, namun di Jakarta banyak polusi udara karena banyak kendaraan bermotor dan sebagainya. Hal ini membuat orang yang bernapas di Jakarta juga mengalami ‘kemacetan’ (hehehe)
Add caption

Lalu apa slogan yang tepat buat kota Jakarta? Masa sih hanya slogan-slogan yang negatif seperti rincian di atas? Kalau Jogja kota pelajar, maka Jakarta itu kota belajar! Ya, Jakarta adalah kota belajar! Pernyataan tersebut merupakan pengamatan pribadi selama tinggal di Jakarta. Selama kurang dari dua tahun saya melihat Jakarta merupakan sebuah ‘kota yang sibuk’. Sibuk dengan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Jakarta maupun luar Jakarta. Sebuah penelitian mengatakan bahwa hampir lebih dari setengah bagian orang yang beraktivitas (bekerja/studi) di Jakarta dari pagi sampai malam bukan masyarakat Jakarta. Lebih tepatnya orang Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek).

Kota besar seperti Jakarta merupakan impian banyak orang untuk mencari rejeki, entah secara halal atau haram. Maka tidak heran jika di kota ini banyak terjadi bermacam tindak kejahatan. Pastinya, kehidupan keras di Jakarta membuat orang belajar. Mungkin benarlah ungkapan ‘Ibu Kota lebih kejam dari ibu tiri’
Add caption

Belajar tentang kehidupan memang tak pernah habis-habisnya. Di kota ini saya melihat seorang pengemis beraksi di atas jembatan penyebrangan dengan muka sedih, padahal saya menemuinya di jalan depan dengan wajah yang segar. Ada juga seorang pengamen yang menyanyikan lagu rohani  ‘Smua Baik’ di atas angkot, dan setelah dikasih duit langsung kabur tanpa pamit. Ini contoh orang belajar menyambung hidup di Kota Jakarta yang keras. Ada juga saya temui anak SD yang bangun pagi dan bersiap diri berangkat jam 5 pagi untuk pergi ke sekolah. Bahkan banyak teman gereja saya bekerja dari pagi hingga malam, dan juga melanjutkan kegiatan di gereja setelah pulang kantor. Inilah gambaran orang-orang yang belajar memperjuangkan hidup di Jakarta.

Mobilitas tingkat tinggi yang terjadi di Jakarta menuntut orang untuk bekerja keras dan belajar kreatif dalam segala bidang yang digelutinya. Ya, Jogja memang kota pelajar, namun pelajar belum tentu belajar. Jika ingin belajar tentang kehidupan, datanglah ke Jakarta. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kota ini.

Saya kembali mengenang ketika pertama datang ke Ibu Kota untuk melanjutkan studi. Saya merasa ragu untuk bepergian sendiri. Alasanya, tidak tahu cara naik kendaraan (Trans Jakarta dan Kereta Api) , dan juga takut dicopet. Namun dari berbagai sikap skeptis itulah saya belajar melakukannya. Bahkan dapat melakukan dengan baik. Misalnya saja saya tahu bagaiman trik mendapat tempat duduk di kendaraan umum di saat semua berdiri berdesakan. (hehehe).



Ternyata banyak hal yang saya pelajari dari kota ini. Akan sangat rugi jika seseorang perantau seperti saya yang ingin melanjutkan studi hanya mau belajar secara akademis. Belajar tentang kehidupan di kota ini sangatlah berharga. Untuk itulah saya menikmati kota ini dengan segala tantangannya. Saya juga belajar banyak hal dari GKI Cawang (Gereja Kristen Indonesia) dimana saya berjemaat. Saya belajar tentang persekutuan, belajar dari pribadi dari orangtua-orangtua yang bersemangat, dan juga belajar dari orang-orang muda, bahkan belajar musik dari orang yang bertalenta.

Tentu semua ini merupakan kesempatan dari Tuhan (kairos) bagi saya.
Jakarta adalah Ibu Kota negara dan banyak orang mengadu nasib di situ. Tak peduli berapa lama seseorang tinggal di Jakarta, jika ia mau belajar tentang kehidupan maka ia pasti menemukan arti dari kehidupan itu. Saya sendiri mencoba memberi makna hidup setelah belajar dari kota Jakarta. Jika saya menjadikan “Jakarta Kota Belajar”, maka penduduk Jakarta hendaknya juga demikian.


Hal terakhir yang saya pelajari adalah belajar untuk berpisah. Perpisahan itu mengajarkan banyak hal. Perpisahan mengajarkan tentang arti persahabatan, tentang menghargai waktu yang dilalui bersama. Perpisahan mengajarkan tentang arti hadir seseorang. Sering kita dengan kalimat demikian: “Bukan perpisahan yg kutangisi tapi pertemuan yg kusesali'. Saya tidak menangisi perpisahan ataupun menyesali pertemuan. Bagi saya pertemuan dan perpisahan adalah waktu untuk belajar, dan itu adalah anugerah Tuhan. Belajarlah tentang kehidupan selagi masih diberi kesempatan untuk memaknai hidup. Kiranya Tuhan pemberi hidup itu memberkati kita.

(Foto-foto pelayanan di GKI Cawang)

                                              Pelayanan Paska 2015 di GKI Cawang


Pelayanan Natal 2014 di GKI Cawang


Pembinaan Penatua, Komisi, Badan Pelayanan GKI Cawang di Puncak Bogor



Pelayanan PS Gracia di GKI Surya Utama





Palayana Bulan Keluarga di GKI Cawang 2014
Add caption



Pelayanan Chirtsmas Carol di rumah-rumah (oma-oma) jemaat GKI Cawang 2014.

METODE STUDI KASUS

A.                PENDAHULUAN
ü Pengertian Metode
Secara etimologis, kata “metode” berasal dari bahasa Yunani: meta= sesudah dan hodos= cara, jalan. Istilah ini mengandung arti yang prosedur yang sistematis, tertata, dan teratur, atau cara untuk melakukan sesuatu (a way of doing anything).
Metode mengajar adalah cara atau prosedur dalam mengelolah interaksi anatara guru dan peserta didiknya bagi berlangsungnya peristiwa belajar. Belajar itu sendiri merupakan kegiatan multidimensi. Artinya, ketika murid belajar, mereka mendengarkan, melihat, membicarakan, merasakan, memikirkan, menuliskan, atau melakukan dan membentuk sesuatu. Banyak lagi aktivitas yang terjadi dalam interaksi itu. Akan tetapi, keragaman aktivitas itu juga bergantung kepada guru yang mengelolah, memfasilitasi, dan memimpin kegiatan. Misalnya, karena sikap atau ketidakmampuan, mungkin saja guru kurang memberi peluang bagi berlangsungnya pembelajaran partisipatif dan dialogis pada interaksi dalam komunitas yang belajar secara multiarah.[1]

Untuk sebuah kegiatan mengajar, guru perlu memberi kesempatan bagi anak didiknya untuk melakukan beberapa aktivitas yang bervariasi, bergantung pada waktu dan tujuan serta fasilitas dan ruangan belajar. Selain itu, sangat tepat bagi guru untuk berusaha memahami prinsip-prinsip belajar dan mengenali metode-metode mengajar, yaitu agar dapat memilih dan menerapkannya. Dalam hal itu, seorang guru yang kreatif tidak akan menetapkan satu atau dua metode saja di dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya, ia hanya berceramah, lalu diikuti dengan tanya jawab, atau guru hanya mengelolah kegiatan demonstrasi dan diskusi tanpa memberikan penjelasan. Bagi guru kreatif, pembelajaran pun dipandang dan diperlakukan sebagai arena bertumbuhnya kreatvitas pada diri peserta didik.

ü Jenis-jenis Metode Mengajar.
Sebelum masuk ke dalam pembahasan khusus mengenai metode studi kasus, perlu juga dilihat berbagai jenis metode yang ada. Denagan demikian dapat diketahui posisi dari metode studi kasus berada.
Ada banyak pandangan dari tokoh pendidikan Kristen mengenai metode mengajar yang dapat dipilih dan diterapkan oleh guru. Misalnya, K.O Gangel (1980) memahami metode mengajar dari penjelasan dan bentuk komunikasi interaksi guru dengan peserta didiknya.[2]
1.    Metode yang hanya menekankan komunikasi satu arah, yaitu dari pihak guru kepada peserta didiknya. Metode yang termasuk kedalamnya ialah ceramah, kuliah, cerita, demonstrasi, dan metode audio visual (video, poster dll).
2.    Metode yang membangun komunikasi dua arah, yaitu dari peserta didik kepada pengajarnya. Metode yang termasuk ke dalamnya ialah laporan tugas membaca, laporan hasil riset, studi kasus, studi kelompok, studi mandiri, percobaan lapangan, surat-menyurat, survei lapangan, mengikuti buku pegangan, hafalan, tes paper,serta tulisan reflektif.
3.      Metode yang membangun komunikasi dua arah, yaitu terjadinya relasi dan interaksi dialogis antar guru dan pesrta didik serta di antar sesama murid. Ada tiga kategori yang termasuk dapat menciptakan relasi dan interaksi dialogis itu.
a.      a.       Diskusi kelompok: brainstorming, buzz-group, studi kasus, kelompok kecil, forum, wawancara,           diskusi panel, seminar, simposium kolokium, lokakarya, berbagi rasa, dll.
b.         Drama: dialog, bacaan dramatis, mimik, pantomim, permainan, permainan peran, sosio-drama, tabloid, dll.
c.         Metode proyek: studi kasus, mentor (bimbingan studi), kelompok kerja, pemecahan  masalah, dll.

Dari berbagai jenis di atas, dapat diketahui bahwa metode studi kasus merupakan  jenis metode yang membangun komunikasi dua arah. Baik komunikasi antara peserta didik dengan guru, maupun komunikasi antar sesama peserta didik.


ü Memahami Ragam Mengajar Sebagai Dasar Pemilihan Metode
Ketika diperhadapkan pada memilih metode untuk mengajar, ada banyak sekali metode-metode yang menarik, dan setiap metode mempunyai karakteristiknya masing-masing. Sejumlah metode membutuhkan waktu yang lama dalam pelaksanaannya, sementara yang lain membutuhkan waktu yang singkat saja. Sedangkan metode yang lainnya memerlukan perlengkapan dan persiapan yang baik dan terperinci, serta ada banyak lagi karakteristik lainnya.

Sara Litlle menjelaskan bahwa dalam pengajaran membutuhkan penggunaan berbagai macam ragam mengajar yang hendak dipilihnya secara selektif dan hati-hati. Menurutnya, berbagai ragam mengajar tersebut bertujuan membantu pribadi-pribadi menumbuhkembangkan dirinya secara utuh. Oleh karena itu sebelum pelbagai macam metode dibicarakan untuk kemudian dipilih, maka untuk kepentingan tersebut, dapat dikatakan ada lima ragam mengajar yang perlu diperhatikan.
Setiap ragam akan melahirkan melahirkan metode-metode yang dapat dipilih untuk mengajar. Dan lima ragam mengajar dimaksud adalah:

1.         Ragam Pemrosesan Informasi
Manusia memerlukan berbagai cara dalam mengelolah fakta-fakta agar ia dapat menetukan kerangka pemahaman, menafsirkan pengalaman, dan membangun suatu cara pandang terhadap kenyataan hidup.
Cirinya: segala macam kegiatan berpikir seperti meningat, mengelompokkan, menamakan, menganalisa, menafsirkan, dll merupakan cara-cara untuk memperoleh informasi dan menyimpannya sehingga ia dapat dipergunakan kembali dan dihubung-hubungkan. Hal ini terjadi misalnya ketika mendengarkan satu cermah atau mengkaji suatu masalah.
Metode-metode di bagian ini : Ceramah, Simposium, Bacaan terarah, Tanya Jawab, Seminar.

2.         Ragam Interaksi Kelompok
Manusia dapat saling belajar dan bersam-sama membangun suatu pemahaman melalui proses (saling mempengaruhi); isi pemahaman yang diperoleh bersama mencakup: baik konsep-konsep maupun hal-hal yang non-verbal/relasional. Kelompok ikut serta mempengaruhi pembentukan “keyakinan” dan “pribadi” nara didik.
Cirinya : menjelaskan pokok-pokok pikiran, mendiskusikan, mengevaluasi, menguji kesan orang lain.
Metode-metode di bagian ini : Diskusi, Kelompok Berbincang, Forum, Wawancara, Kelompok Melingkar, PA secara induktif.

3.         Ragam Komunikasi Tidak Langsung
Di bagian ini karya seni mempunyai kemampuan untuk menjembatani keterbatasan komunikasi verbal, mampu melibatkan seseorang dengan seutuhnya dalam berbagai tahap pemahaman diri dan tahap konfrontasi. Melalui ungkapan seni kita memperoleh kemungkinan untuk mengalami arti dari keyakinan kita dengan suatu cara yang dapat mengubah diri sendiri maupun orang lain.

Cirinya : Cerita-cerita, perumpamaan, musik, film, media masa, semua itu membuka pintu untuk keterlibatan melalui menanggapi, memikirkan, merasakan dengan cara terlibat dan menanggapi.
Metode-metode di bagian ini : Kunjungan Lapangan. Demonstrasi, Lokakarya.

4.        Ragam Pengembangan Pribadi
Jika seseorang memiliki rasa sadar diri dan sadar lingkungan dengan baik, akibatnya ia merasa diterima dapat berpera sebagai pribadi yang mampu menyumbangkan sesuatu. Melalui proses ini seseorang dapat mengenal kemampuan-kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya.
Cirinya : Mengembangkan prakarsa nara didik, saling berbagi, mengungkapkan gagasan.
Metode-metode di bagian ini :Peragaan Peran, Sumbang Saran, Debat.

5.        Ragam Aksi-Refleksi
Orang sering tidak memahami suatu gagasan sebelum gagasan tersebut diwujudkan dalam tinndakan, dialami, direfleksikan dan ditafsirkan. Disini aspek “teori” dan “praktek” disatukan. Sambil mempraktekkan suatu gagasan orang mengingat dan menguji praktek tersebut dengan gagasan yang dianut
Cirinya : Analisa situasi, latihan pemecahan masalah, menghubungkan tindakan dengan pikiran, menghubungkan tradisi (ajaran) dengan ilmu-ilmu masa kini.
Metode-metode di bagian ini : Studi Kasus, Kamp Kerja.

Jika dilihat berbagai ragam mengajar di atas maka dapat diketahui bahwa metode studi kasus berada pada Ragam Aksi-Refleksi. Ragam Aksi-Refleksi tidak hanya menekankan pada aspek kognitif peserta didik tapi juga pada aspek afektif (refleksi) peserta didik dan juga aspek psikomotorik (aksi) peserta didik.


B.  PEMBAHASAN
Metode Studi Kasus
Studi kasus merupakan deskripsi mengenai suatu pengalaman dalam kehidupan nyata, berkaitan dengan bidang yang sedang dikaji atau dilatihkan, yang digunakan untuk menetapkan poin-poin penting, memunculkan masalah atau bahkan meningkatkan pemahaman dan pengalaman belajar dari para peserta. Pelaksanaannya biasanya mengikuti suatu skenario nyata, misalnya suatu masalah manajemen atau teknis, dari awal hingga akhir. Karena studi kasus memberikan contoh-contoh nyata mengenai masalah-masalah dan solusi-solusi, tantangan-tantangan dan strategi-strategi, studi kasus tersebut mendukung bahan-bahan yang lebih bersifat teoritis dan sering kali menjadikan 'pelajaran' tersebut lebih dapat diingat dan dipercayai bagi kelas.[3]

Menurut Daniel Nuhamara[4] “ Perumpamaan-perumpamaan yang diceritakan oleh Tuhan Yesus sesungguhnya merupakan studi kasus. Dengan pendekatan ini Yesus menggariskan seluk beluk salah satu kasus, sebagian dari pengalaman seseorang dan mengundang para pelajar memanfaatkan akal dan imannya.

  Dengan studi kasus, orang didorong untuk memikirkan inti persoalannya dan mencari jalan pemecahannya. Jadi pengajar tidak menjawab sendiri semua persoalan melainkan jawaban harus diberikan oleh masing-masing peserta didik atau pelajar.[5] Contoh konkritnya terdapat dalam cerita Alkitab yang termuat dalam Markus 10:25-37 tentang “ Orang Samaria yang murah hati”.

Pemahaman Metode
Sebuah kisah atau uraian tentang suatu masalah disajikan kepada kelompok untuk dianalisa, diolah dan mengusulkan pemecahan. Kepada mereka diberikan pertanyaan-pertanyaan menolong agar percakapan menjadi terarah dan tidak ngawur.

·      Kelebihan Metode
Peserta mendapat gambaran tentang kenyataan hidup dan berbagai pemecahan atas masalah yang dibahas.
·         Kekurangan Metode
Kalau waktu kurang, metode ini menjadi tidak efektif. Tidak mudah menemukan kasus yang tepat untuk dibahas.
·         Waktu Yang Diperlukan
Waktu yang diperlukan sekitar 1-3 jam
·         Kondisi Kelompok
Metode ini dapat diikuti oleh banyak peserta.
Untuk semua usia (di atas 12 bulan).
Studi kasus dapat mencakup beberapa atau keseluruhan hal-hal berikut ini:
  • Pengaturan adegan (scene)
§   Detail organisasi
§   Deskripsi pemeran (pemain)
§   Gambaran umum tantangan atau masalah tertentu
§   Informasi tambahan yang diperlukan untuk memahami skenario tersebut
  • Sumber-sumber yang tersedia
  • Identifikasi kompleksitas dan masalah-masalah dalam lingkungan kerja yang mempengaruhi proyek tersebut
  • Pertimbangan yang harus diberikan dalam hal bagaimana masalah dipecahkan, meliputi
    • personil / stakeholder
    • tahap perencanaan
    • pilihan-pilihan yang dipertimbangkan
    • implementasi
    • hasil-hasil[6]
ü Hasil-hasil Pembelajaran Dari  Studi Kasus
            Studi kasus adalah suatu pengantian penempatan peserta dalam suatu posisi  pekerjaan (workplace) jika kursus tidak memungkinkan hal tersebut dilakukan. Oleh karena itu, studi kasus sangat berguna dalam suatu kursus singkat. Studi kasus juga memberikan simulasi-simulasi realistis mengenai beberapa pengalaman kehidupan nyata yang dapat diharapkan para peserta saat mereka berlatih sendiri. Bagi peserta yang menjalankan on-the-job training, studi kasus dapat menawarkan pengalaman-pengalaman, pendekatan-pendekatan dan solusi-solusi yang akan memperluas pengetahuan dan keterampilan peserta yang bersangkutan.

Dengan cara membaca atau mendengarkan studi kasus dan memikirkan mengenai skenario dan solusi-solusi yang dimungkinkan, para peserta akan mengembangkan keterampilan-keterampilan yang mereka perlukan dalam mengejar karier mereka. Keterampilan yang diberikan mencakup:[7]
  • mengidentifikasi masalah atau tantangan
  • memahami dan menginterpretasi data
  • menganalisa informasi
  • mengenali asumsi-asumsi dan menarik kesimpulan
  • berfikir secara analitis dan kritis
  • berlatih mengambil keputusan
  • menerima dan mempertahankan keputusan-keputusan
  • memahami hubungan-hubungan interpersonal
  • mengkomunikasikan ide-ide dan opini-opini


C.                PENUTUP
Kesimpulan
Jika diamati, metode studi kasus ini sangat baik untuk diterapkan di dalam pembelajaran di sekolah. Metode ini bukan hanya menekankan kepada aspek kognitif semata dari peserta didik tetapi juga melibatkan aspek afektif dan juga psikomotorik. Dengan metode studi kasus peserta didik diajak untuk berpikir kritis (kognitif) terhadap suatu masalah dan setelah menemukan inti permasalahannya peserta didik juga diajak untuk menyikapinya secara benar (afektif). Dengan sikap itu peserta didik diajak untuk menentukan pilihan yang terbaik dan dapat melakukan dalam kehidupannya setiap hari (psikomotorik).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode studi kasus ini melibatkan ketiga aspek dari diri peserta didik. Namun metode yang baik ini jika diamati masih jarang diterapkan di dalam pembelajaran di sekolah. Ini bisa disebabkan karena berbagai hal, diantaranya: guru belum mampu menguasai/mempelajari metode dengan baik. Atau mungkin metode ini juga dianggap baru karena yang lazim digunakan guru hanya metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Dari sisi peserta didik, metode ini harus bisa diterapkan kepada peserta didik yang sudah mampu berpikir abstrak dan kritis. Guru dan peserta didik juga harus mengenali konteks lingkungan dimana studi kasus diberikan sehingga dalam pemecahan masalahnya dapat dengan jelas menggambarkan solusi-solusinya.
  
Saran
                    Adapun beberapa saran yang perlu diperhatikan jika metode studi kasus ini digunakan dalam pembelajaran. Saran-saran yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut:
Ø     Metode studi kasus hendaknya merupakan sebuah metode yang digunakan dalam bagian dari strategi pembelajaran yang merupakan indikator dari tujuan pembelajran.
Ø     Perlu juga memperhatikan ragam mengajar, jika ragam mengajar yang dibutuhkan hanya untuk menekankan aspek kognitf, maka metode ini kurang cocok untuk digunakan.
Ø     Pengenalan konteks lapangan tentang studi kasus itu harus jelas dikenali baik oleh guru maupun peserta didik.
  
Daftar Pustaka

Ismail Andar, 2010, Ajarlah Mereka Melakukan, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Nuhamara Daniel, 2007, Pembimbing Ke Dalam Pendidikan Agama Kristen, Bandung: Jurnal Info Media
Sanjaya Wina, 2006, Strategi Pembelajaran, Bandung: Kencana
Sidjabat, Mengajar Secara Profesional, Bandung: Kalam Hidup
http://www.ica-sae.org/trainer/indonesian/p9.htm





[1] Sidjabat, Mengajar Secara Profesional, hlm 229-230
[2]Ibid, hlm 231-232
[3] http://www.ica-sae.org/trainer/indonesian/p9.htm Diakses pada tanggal 7 Desember 2014
[4] Nuhamara, Daniel “Pembimbing Ke Dalam Pendidikan Agama Kristen”, hlm 140
[5] Ibid.
[6] http://www.ica-sae.org/trainer/indonesian/p9.htm Diakses pada tanggal 7 Desember 2014

[7]  http://www.ica-sae.org/trainer/indonesian/p9.htm Diakses pada tanggal 7 Desember 2014