Wise People Never Stop Learning
BELAJAR DARI PENDIDIKAN YAHUDI
Ø Pengantar:
Di masa kini tugas mendidik dan mengajar anak selalu disepelehkan oleh banyak orang tua Kristen. Dengan berbagai kesibukan pekerjaan dan  kesibukan lainnya anak-anak sering kali diabaikan. Komunikasi yang terjadi di antara orang tua dan anak seringkali tidak berjalan dengan baik. Orang tua pergi kerja di pagi hari sebelum anak bangun ke sekolah dan pulang ke rumah dengan keadaan anak sudah tertidur. Ini adalah salah satu gambaran kondisi sekarang dari berbagai masalah yang kompleks tentang pendidikan di dalam keluarga.

Mengingat sifat hubungan orang tua dan anak, yang menyangkut hubungan emosional, afektif, dan intensitas pergaulan akan keduanya, dapat dimengerti bahwa orang tualah yang mempunyai tanggung jawab primer dalam pendidikan anak mereka. Artinya, merekalah yang paling mengenal dan berkepentingan terhadap anak-anak mereka. [1]

Dengan judul di atas tentang “belajar untuk hidup, hidup untuk belajar” maka yang akan dibahas adalah teladan bangsa Israel, khususnya para orang tua dalam mendidik anak sebagai tugas belajar dari Tuhan. Judul di atas merupakan sebuah refleksi atas pendidikan hidup yang dilakukan oleh bangsa Israel yang menjadikan belajar sebagai life style. Tua muda, besar kecil memiliki tugas untuk belajar sepanjang hidup. Belajar merupakan kegiatan seumur hidup (life long learning), atau belajar seumur hidup (long life education) yang harus dihayati.

Mengapa menjadikan pendidikan Yahudi sebagai contoh dalam Pendidikan Agama Kristen? Paling tidak ada 2 hal yang menjadi pertimbangan. Pertama, karena dari pendidikan Yahudilah Yesus (dari sisi manusiawinya) berasal, dididik mengenai Taurut, tradisi-tradisi dan lain sebagainya. Kedua, bangsa Yahudi adalah bangsa yang sangat menaruh perhatian penuh pada pendidikan. Paling tidak, dua alasan itu cukup untuk menjadikan mereka bangsa yang patut dicontohi.
Jika pendidikan Yahudi yang diambil sebagai contoh, maka perlu melihat apa yang menjadi “motivasi” mereka dalam belajar. Hal itu bisa ditemukan dalam Kitab Ulangan 6:4-9, yang merupakan bagian Kitab Suci yang memberikan arti yang mendalam bagi umat Yahudi dalam mengemban tugas mengajar dan belajar. Bagian Kitab Suci ini merupakan Pengakuan Iman bangsa Israel pada waktu itu, atau yang biasa dikenal dengan Syema Yisrael . [3] Secara khusus penekanannya pada ayat 7.

Teks yang dipakai, Ulangan  6:7 “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumah, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”.


Ø    Konteks Historis teks Ulangan 6:7
·      Pada pemerintahan raja Yosia di Yehuda , keadaan politik di Israel agak tenang . hampir tidak ada lagi pengaruh luar negeri . Asyur saat itu mulai lemah, dan pengaruhnya diarahkan kepada Babylon yang mulai muncul sebagai negara yang kuat. Dalam keadaan ini Yosia mengambil tindakan pembaharuan agama Israel. Pada tahun 622 SM, ketika Bait Allah di Yerusalem sedang diperbaiki, imam besar Hilkia menemukan sebagian dari kitab Ulangan. Oleh karena itu reformasi Yosia lebih dikenal sebagai “Reformasi Deuteronomist”.

·      Theologi Deuteronomistis
Dari penyelidikan ternyata bahwa theologi Deuteronomis berasal dari Kerajaan Utara (Israel). Kehidupan agamawi orang Israel diracuni oleh sinkritisme yang hebat sekali. Akan tetapi di dalam masa sinkritisme ini terdapat sekelompok imam-imam yang masih setia kepada Yahweh  dengan demikian lambat-laun berkembanglah theologi imam-imam ini sebagai theologi yang anti-sinkritisme. Sesudah jatuhnya Samaria (tahun 722), imam-imam ini turut mengungsi ke Yehuda bersama penduduk Israel lainnya. Dengan demikian theologi mereka turut dibawa masuk ke Yehuda dan di sana theologi ini dibukukan.

Maksud Deuteronomis dan penulis-penulisnya, yang pengaruhnya terdapat mulai dari kitab Keluaran sampai kepada II Raja-raja, ialah untuk memanggil kembali bangsa Israel guna melaksanakan panggilannya sebagai bangsa yang terpilih oleh Allah. Deuteronomis memanggil bangsa Israel untuk taat kepada kepercayaan yang harus dinyatakan di dalam ibadah, tetapi juga di dalam “sunat hati” dan “kehidupan menurut hukum Allah”. Khususnya, unsur pilihan yang merupakan anugerah Allah, dititik beratkan, tetapi dipihak lain, bangsa Israel harus hidup menurut hukum Tuhan, supaya Israel menjadi suatu bangsa seperti yang telah ditentukan oleh Allah: Bangsa yang kudus milik Allah.
Konsepsi pembalasan hukuman atas dosa adalah penting dalam theologi Deuteronomis. Kalau bangsa itu berdosa, mereka akan dihukum oleh Allah, tetapi Allah meyelamatkan bangsaNya, sesudah mereka bertobat.

Deuteronomis menitik-beratkan arti kota Yerusalem sebagai pusat kultus Israel. Semua kuil-kuil di luar Yerusalem haruslah ditutup, sebab justeru tempat-tempat kudus itulah selalu merupakan pusat sinkritisme. Hanya ada satu tempat kudus yang dipilih oleh Allah, yaitu Bait Allah di Yerusalem.

Jelas konteks realitas sosial pada masa Israel berbeda dengan konteks realitas sosial kekinian. Namun itu bukan berarti bahwa apa yang dilakukan Allah terhadap bangsa Israel dalam hal mendidik pada waktu itu sudah tidak relevan lagi dengan konteks masa kini. Konteks memang berbeda, namun prinsip mendidik dari Tuhan masih relevan dengan konteks masa kini untuk diterapkan dalam hal mendidik anak.


Ø  Motivasi Theologis
Tema besar kitab Ulangan: SYEMA YISRAEL YAHWEH ELOHENU YAHWEH EHAD, artinya DENGARLAH HAI ISRAEL , YAHWEH ITU ALLAH KITA, YAHWEH ITU SATU (ULANGAN 6:4)
Kata-kata ini merupakan pengakuan kepercayaan orang Israel dan mempunyai arti yang besar dalam kehidupan rohani orang Israel sampai masa kini. Sesudah orang Israel memasuki tanah Kanaan, mereka mangambil-alih kuil-kuil orang Kanaan, tempat Baal dipuja. [4]

Perikop ini adalah pembukaan pidato pengajaran ( atau: khotbah, kuliah umum) yang disampaikan Musa sebgaiman dicatat dalam Ulangan pasal 6 s/d 11.[5] Dengan demikian teks Ulangan 6:7 merupakan satu kesatuan dengan tema besar Ulangan yakni pengakuan Iman Israel (Syema). Ayat ini (ayat 7) muncul sebagai lanjutan untuk mengajarkan perbuatan Allah pada masa itu dan itu juga berarti bahwa pengajaran tersebut berdampak pada generasi selanjutnya.  

Dengan melihat konteks historis di atas bahwa Israel bukan saja satu-satunya bangsa yang hidup pada waktu itu, melainkan ada banyak bangsa, maka kehidupan saling mempengaruhi dapat terjadi sebagai akibat sosiologis. Bangsa Israel memiliki iman kepada Yahweh tetapi bangsa lain (seperti Kanaan) juga mengimani Baal sebagai allah mereka.

Di sinilah tugas pendidikan sangat penting. Pendidikan bangsa Israel harus membawa mereka kepada pengenalan akan Allah yang benar  dan hidup menurut kehendak Allah. Dengan demikian mereka menunjukan ciri khas panggilan mereka sebagai umat Allah (Qahal Yahweh). Konsekuensi dari tidak mendidik anak ialah generasi Israel dapat terjerumus ke dalam cara hidup yang sama dengan bangsa lain, yakni menyembah Baal. Di sinilah Allah memakai pendidikan sebagai alat untuk menjaga kehidupan umatNya agar tetap kudus bagiNya.

Ayat ini merupakan suatu tanggung jawab besar  kepada orang tua untuk mendidik dengan cara-cara yang telah ditentukkan. Ini ditandai dengan kata “haruslah”. Pendidikan merupakan sebuah keharusan untuk bisa menciptakan generasi yang hebat, yang dapat bertahan dalam setiap ujian kehidupan dan bahkan dapat mempengaruhi bangsa lain dengan cara hidup mereka yang berfokus pada Allah.

Selanjutnya dalam ayat 7 menjabarkan cara belajar dan mengajarkan pidato Musa. Ada tiga cara utama yaitu memperhatikan, mengajarkan berulang-ulang (Ibrani: shanan = mengasah, meruncingkan, menajamkan) dan membicarkan. [6]

Dengan melihat konteks historis dan juga motivasi theologis Ulangan 6:7, kita mendapat sebuah gambaran mengenai pendidikan umat Israel yang dapat membekali  kehidupan mereka di masa depan. Teks ini bukan saja berbicara mengenai bagaimana cara belajar tetapi juga menekankan kefokusan dalam mendidik generasi waktu itu. Agar dengan pendidikan inilah umat pada waktu itu dapat bertahan dan melanjutkan hidup. Dapat juga dikatakan bahwa inilah “pendidikan hidup”. Qahal Yahweh belajar untuk hidup dan hidup untuk belajar. Inilah pendidikan kehidupan.


Ø Konteks Masa Kini
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dalam berbagai aspek. Baik itu aspek agama, suku, strata sosial (golongan), budaya dan sebagainya. Dengan kenyataan inilah, Indonesia menjadi tempat perteduhan berbagai kemajemukan tersebut.

Kemajemukan seringkali disikapi secara berbeda-beda oleh berbagai orang. Ada yang menerimanya sebagai kekayaan bangsa, ada juga yang  menolaknya karena ingin memaksa keinginan dirinya yang menonjol. Jika, sikap terakhir yang dipegang oleh kebanyakan orang maka Indonesia akan menjadi terpecah-pecah. Inilah kenyataan yang sering terjadi. Misalnya dalam aspek agama; agama yang satu sering ingin menonjolkan diri dari agama yang lain. Sikap arogansi sering dipertontonkan untuk menunjukan  power .

 Indonesia yang berpegang pada pemerintahan demokrasi sering berubah wujud menjadi pemerintahan yang didominasi oleh golongan tertentu (dominokrasi). Contoh kasus yang terjadi: seorang lurah yang didemo untuk turun dari jabatannya bukan karena kinerjanya yang kurang baik melainkan karena perbedaan agama.

Dari gambaran di atas menunjukan bahwa, masih banyak orang yang melihat perbedaan sebagai sesuatu yang buruk, dan harus dimusnahkan. Seakan-akan mayoritas lebih unggul dari minoritas, dan inilah yang dipegang. Ini baru soal agama, belum lagi kemajemukan yang lainnya. Misalnya budaya, strata sosial dan lainnya.

Jika memegang semboyan bangsa ini; “Bhineka Tunggal Ika” dengan benar, maka kehidupan yang harmonis akan dapat diwujudkan sehingga terciptalah masyarakat yang adil dan makmur. Tidak ada lagi kaum mayoritas dan minoritas. Semuanya sama; baik itu kaya atau miskin, putih atau hitam, orang Jawa atau Papua, agama apapun, semuanya melebur dalam Bhineka Tunggal Ika.

Untuk mewujudkan kehidupan berbangsa yang harmonis (saling menerima dalam segala perbedaan) maka salah satu cara yang baik jika ditempuh adalah melalui pendidikan. Dalam hal ini, Pendidikan Agama Kristen sebagaimana belajar dari kisah kehidupan bangsa Israel yang terterah dalam Ulangan 6:6-7. Secara khusus pada ayat 7. Sejalan dengan itu, Hadinoto Atmadja mengatakan:
     “Tugas belajar-mengajar sudah sejak dari Perjanjian Lama diinstruksikan  dalam  Ulangan   6:6-7, yang dikenal dengan Syema Yahweh.

Tujuan dari pengajaran dalam gereja adalah agar orang diajarkan jalan Tuhan. Jalan yang dimaksud adalah menuju kehidupan, yang menyangkut mendengar dan melakukan yang benar. Agar jalan yang benar itu dapat dicamkan dan dipraktekkan , dibutuhkan PAK”.


Ø  Impilikasi Teks Bagi PAK
Teks Ulangan 6:7 memberikan gambaran yang jelas tentang penting pendidikan di dalam keluarga. Melalui pendidikan kelurga inilah Umat Allah dibekali untuk kehidupan  masa itu dan kehidupan generasi selanjutnya. Selanjutnya melalui pendidikan keluarga, generasi mendatang dipersiapkan untuk bisa bertahan dari pengaruh-pengaruh kehidupan bangsa lain. [8]Kerena itulah pendidikan agama dalam keluarga sangat penting dan memberi pengaruh yang besar pada kehidupan anak selanjutnya.
Sejalan dengan itu, John Milla mengatakan:
“Umat Yahudi pada umumnya dan setiap keluarga pada khususnya ditugaskan untuk menyampaikan kekayaan iman tentang bangsa pilihan Allah ini kepada generasi baru. Pusat Pendidikan Agama adalah keluarga, terutama sang Ayah yang bertanggung jawab dalam Pendidikan Agama kepada keluarganya...”
Orangtua-orangtua Kristen seharusnya menerapkan tiga aspek mendidik anak dalam keluarga yang sesuai pandangan Alkitab, yakni; aspek mangasuh, contohnya Abraham dalam mengasuh/merawat Ishak, aspek mendidik/mengajar, contohnya imam Ely yang salah dalam mendidik anank-anaknya dan yang terakhir adalah aspek  memperlengkapi  (Efesus 4:12). Namun kenyataan masa kini jauh berbeda dengan apa yang diharapkan.

Banyak orang yang sekarang mencari fokus bagaimana hidup (asal bisa makan). Bisa dikatakan orang tersebut dalam hidupnya “berpusat pada perut” (stomach oriented). Ini bukan hal yang salah tetapi juga bukan hal yang sepenuhnya benar. Kebutuhan primer (makanan, rumah, pakaian) merupakan hal yang penting, dan untuk itu tidak bisa ditunda lagi. Dengan kenyataan inilah orang “belajar untuk hidup”. Melalui ketrampilan yang dimilki, seseorang dapat bekerja dan menghasilkan uang untuk bisa hidup. Entah yang dikerjakannya itu baik atau buruk yang pasti dia belajar untuk hidup. Inilah sifat makhluk hidup, bahwa dengan kenyataan hidup dia harus belajar untuk hidup, dia belajar untuk memaksimalkan ketrampilan dan kemampuannya untuk hidup. Sebagaimana seekor singa dapat belajar untuk hidup dengan mencari makan walau dengan cara menerkam dan memakan mangsanya.

Dengan demikian “belajar untuk hidup” bisa dapat dikatakan sebagai naluri alamiah. Semua makhluk hidup, bukan saja manusia,  dapat dan bahkan harus melakukannya. Inilah yang dimaksudkan dengan belajar untuk hidup.

Bagaimana dengan “hidup untuk belajar”? Tidak semua orang menghayati dan memaknai bahwa hidup itu untuk belajar. Jika belajar untuk hidup harus dilakukan semua orang maka hidup untuk belajar hanya dilakukan sebagian orang.

Belajar dari kehidupan bangsa Israel sebagai umat Allah (Qahal Yahweh) yang sangat menekanan bukan hanya belajar untuk hidup tetapi lebih dari itu bahwa hidup untuk belajar. Tugas belajar dihayati penuh oleh bangsa ini, bahkan sampai pada masa kini. Belajar merupakan kebiasaan atau life style-nya umat Yahudi sekarang ini. Sejalan dengan itu, Abram mengungkapkan: “ di kalangan Yahudi, belajar bukan hanya “perintah Allah” tetapi menjadi way of life “.[10] Seluruh eksistensi kehidupan mereka adalah belajar.

Hal itu terlihat jelas dari teks kita (Ulangan 6:7) khususnya pada kata berulang-ulang  (Ibrani: shanan = mengasah, meruncingkan, menajamkan). Anak-anak diajarkan oleh orang tuanya sebagai suatu tanggung jawab besar dari Tuhan.

Jika melihat realitas hidup masa kini, maka yang ditemukan adalah kenyataan yang berbeda jauh. Orangtua lebih memfokuskan diri pada “belajar untuk hidup”. Sisi lain dari kehidupan yakni “hidup untuk belajar” disepelehkan. Tugas mendidik yang  secara khusus  diberikan Allah kepada orang tua disepelehkan. Banyak orang tua  lebih memilih mencari uang sebanyak-banyaknya ketimbang meluangkan waktu bersama dangan anak untuk belajar. Ini jelas jauh berbeda dengan kehidupan umat Allah waktu itu. Jangankan belajar dengan cara shanan (mengasah, meruncing, menajamkan), intensitas waktu untuk bertemu saja susah apalagi berkomunikasi.

Memang konteks umat Allah dan kita pada masa kini jauh berbeda tetapi prinsip-prinsip dari pendidikan kehidupan perlu dilakukan juga pada masa kini. Tidak cukup menekankan “belajar untuk hidup” tetapi juga “hidup untuk belajar”. Manusia adalah makhluk yang berakal, dan bukan saja  bertindak menggunakan naluri alamiah seperti hewan. Karena itulah kedua prinsip pendidikan kehidupan harus berjalan bersamaan.

Mengingat sifat huubungan orang tua dan anak, yang menyangkut hubungan emosional, afektif, dan intensitas pergaulan akan keduanya, dapat dimengerti bahwa orang tualah yang mempunyai tanggung jawab primer dalam pendidikan anak mereka. Artinya, merekalah yang paling mengenal dan berkepentingan terhadap anak-anak mereka. [11]

Pengaruh pola asuh dalam keluarga sangat besar menentukan bagaimana masa depan anak-anak kelak. Keluarga yang melihat pentingnya kedua prinsip pendidikan kehidupan akan menciptakan generasi-generasi yang dapat bersaing dan juga dapat memegang nilai-nilai Kristiani dalam kehidupannya kelak.

Sejalan dengan itu Marjorie Thompson mengatakan:
“Karena kita lahir atau diterima dalam keluarga masing-masing , dan karena keluarga asal adalah konteks utama kehidupan dan hubungan sehari-hari selama masa-masa pembentukan, tampaknya cukup beralasan untuk menyimpulkan bahwa keluarga asal adalah tempat pertama pembentukan rohani. Entah keluarga baik atau buruk, direncanakan atau tidak, di dalam keluarga yang “telah diberikan” inilah, mau tidak mau, sebagai anak-anak, hati dan pikiran kita dibentuk secara mendasar.
Keluarga memang bukanlah satu-satunya konteks pembentukan pribadi yang secara berlangsung. Hidup ini penuh dengan konteks-konteks alternatif –misalnya sekolah, tempat kerja, gereja, kelompok-kelompok masyarakat, jalan-jalan umum, kebudayaan-kebudayaan lain – di mana lingkaran informasi dan hubungan yang semakin meluas terus-menerus membentuk kita. Tetapi, dengan siapa secara akrab kita tinggal, berjuang, dan bermain, tampaknya memberikan dampak yang paling mempengaruhi – walaupun tidak disadari –jati diri kita.”[12]

Ini perlu direnungkan oleh kita, khususnya orang tua masa kini, agar melalui Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga, anak disiapkan untuk menjadi pribadi yang tangguh di masanya dan masa depan walaupun ada banyak realitas sosial yang berbeda dengan yang dimilikinnya. Perbedaan-perbedaan dengan orang lain dapat diterima, tetapi dibalik itu juga anak dapat menunjukan jati diri sebagai garam dan terang bagi dunia sekitar .

Semua ini bisa terjadi, jika anak tidak saja diajar bagaimana belajar untuk hidup tetapi juga hidup untuk belajar. Orangtua memiliki tugas penting untuk memberi makna terhahadap pendidikan kehidupan ini dengan mengajar anak. Mengajar adalah menabur nilai-nilai hidup.
Kita belajar untuk hidup, tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa kita hidup untuk belajar.[13]  Inilah yang juga diajarkan Allah kepada Israel; Belajar untuk hidup dan hidup untuk belajar.








DAFTAR PUSTAKA

Andar Ismail, 2010, Ajarlah Mereka Melakukan, Jakarta :  BPK Gunung Mulia
Andar Ismail, 2011, Selamat Menabur, Jakarta :  BPK Gunung Mulia
Atmadja Hadinoto, Dialog Dan Edukasi, Jakarta: BPK Gunung Mulia
Bloomendal, Pengantar Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia
John Virgil Milla, Peran Keluarga Dalam Pengajaran PAK Terhadap Pertumbuhan Rohani Anak, Jakarta: YAKI
Marjorie Thompson, Keluarga Sebagai Pusat Pembentukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia
Abdul Waid, Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi, Jogjakarta: Diva Press
Boehlke Robert, 2011,Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek Pendidikan Agama Kristen Jilid I & II, Jakarta :BPK Gunung Mulia.


[1]  AtmadjaHadinoto, Dialog Dan Edukasi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, hlm 295

[2] Lihat Abdul Waid, Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi,  Diva Press, hlm 75
[3] Lihat penjelasan lebih lanjut pada bagian pembahasan “Motivasi Teologis”.
[4] Lihat Bloomendal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, BPK. Gunung Mulia, hlm 60-62
[5] Lihat Andar Ismail, “Selamat Menabur” hlm 92 tentang pembahasan Syema. BPK. Gunung Mulia
[6] Ibid hlm 93
[7] Ismail Andar, 2010, Ajarlah Mereka Melakukan, hlm 253.
 [8] Bandingkan poin motivasi teologis
[9] John Virgil Milla, Peran Keluarga Dalam Pengajaran PAK Terhadap Pertumbuhan Rohani Anak, hlm 31.
[10] AtmadjaHadinoto, Dialog Dan Edukasi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, hlm 295
[11] Ibid hlm 283
[12] Marjorie Thompson, Keluarga Sebagai Pusat Pembentukan, hlm 10-11
[13] Ismail Andar, 2011, Selamat Menabur, hlm 121.
[14]Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: PT Refika Aditama, 2007) 5&6

Banyak orang di dunia mengerti akan definisi kasih. Dari pengertian itu kasih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Entah dalam penerapannya benar atau salah. Pertanyaannya, dari manakah sumber kasih itu? Dalam 1 Yohanes memberikan satu gambaran yang jelas: “Saudara-saudara yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah”. Pernyataan ini jelas, bahwa kasih itu berasal dari Allah, kasih itu bersumber dari Allah.

Dengan sumber kasih itulah kita mengasihi sesama, walau pun tak bisa dipungkiri bahwa dalam mengasihi kita tidak bisa seperti Allah. Kita mengasihi orang yang kita senangi, orang yang sederajat dengan kita, bahkan orang yang juga mengasihi kita. Selain dari itu kita abaikan. Tentunya ini bukan hal yang benar, karena jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, yang kita senangi, yang sederajat dengan kita, itu berari kita mengasihi karena kualifikasi atau syarat tertentu.

Manusia pada dasarnya melakukan tindakan mengasihi karena ada kondisi tertentu (conditioning love). Sedangkan Tuhan mengasihi dengan keadaan sebagaimana mestinya manusia itu, tanpa syarat tertentu (unconditioning love). Tuhan melakukan tindakan kasih walaupun manusia itu tidak memenuhi kriteria-kriteria untuk dikasihi, sedangkan manusia melakukan tindakan kasih karena melihat kriteria-kriteria tertentu dari objek kasih.

Memang untuk mengasihi seperti Tuhan adalah suatu hal yang sulit, tapi syukurlah bukan perkara yang mustahil. Sulit karena, kita harus mau menerima sesama kita sebagai orang yang patut dikasihi, walaupun bukan sederajat dengan kita, kita harus meninggalkan zona nyaman kita, dan sebagainya. Mengasihi seperti Tuhan juga bukan perkara yang mustahil karena kita diberi teladan dan juga kemampuan dari Allah yang adalah sumber kasih itu.

Ada begitu banyak definisi dari arti mengasihi yang diungkapkan Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 13:4-7. Namun yang menarik bagi saya adalah ayat  7. Ayat ini merupakan ayat pegangan ketika baru pertama menjalin hubungan secara serius (pacaran), bunyinya demikian: “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”.

Alangkah luhurnya makna dari ayat ini. Kasih dapat menutup segala sesuatu, termasuk kelemahan dari orang yang kita kasihi; percaya akan orang yang kita kasihi walaupun dalam keadaannya yang buruk; dalam kasih ada harapan untuk melihat orang yang dalam keadaan buruk dan penuh kelemahan itu berubah menjadi lebih baik; dan untuk mewujudkan itu seorang yang mengasihi harus  sabar menanggung semua kelemahan dan keburukan dari orang yang ia kasihi.

Surat-surat Paulus selalu bersifat paranese (nasehat) bagi jemaat pada waktu itu, dan juga bersifat paraklese (menghibur) jemaat yang pada waktu itu yang berada dalam penderitan. Lalu bersifat apakah ayat 7 ini? Paranese atau paraklese

Ayat 7 ini bersifat keduanya, paranese sekaligus paraklese. Paulus memberi nasehat kepada jemaat di Korintus untuk melakukan kasih, namun untuk melakukan tindakan (kasih) itu juga butuh pengorbanan yang luar biasa (baca menderita) sehingga jemaat harus dihibur.

Saya bersyukur bahwa saya dapat mengalami kasih itu; bahwa dalam hidup saya banyak orang yang mengasihi saya walaupun keadaannya begitu buruk. Ada yang mau menerima kelemahan saya walaupun saya berpura-pura menunjukan sesuatu yang baik; ada yang percaya kepada saya, walaupun sebagai seorang yang tak pantas dipercayai; ada yang mengharapkan saya berubah menjadi lebih baik dan berguna bagi orang lain, walaupun dalam keadaan saya yang menjadi cemooh bagi orang lain; dan yang lebih dari itu semua, mau sabar menanggung segala sesuatu yang  saya lakukan.

Inilah kasih; yang mau menerima; mau percaya; mau mengharapkan; dan mau sabar menanggung segala sesuatu. Terima kasih bagi mereka yang telah mengasihi saya dengan tulus. Dengan kasihlah segala sesuatu dapat diubah. Semoga Tuhan menolong kita untuk bisa menyatakan kasih bagi sesama.


(LAGU: KASIH)
Kasih pasti lemah lembut
Kasih pasti memaafkan
Kasih pasti murah hati
KasihMu kasihMu Tuhan
(2x)

Ajarilah kami ini
Saling mengasihi
Ajarilah kami ini
Saling mengampuni

Ajarilah kami ini
KasihMu ya Tuhan
KasihMu kudus tiada batasnya.




Gereja pada hakikatnya adalah komunitas yang belajar dan mengajar. Gereja yang belajar dan mengajar adalah gereja yang terus menceritakan tentang kasih dan perbuatan Allah yang ajaib melalui sejarah kehidupan manusia di dalam konteks pergumulannya masing-masing melalui wadah-wadah yang  disiapkan. Salah satu di antaranya melalui proses katekisasi.

Gereja sering juga dianalogikan sebagai Israel yang baru, dimana gereja terdiri dari orang-orang pilihan Tuhan atas kasih karunia-Nya. Banyak hal yang diadopsi oleh gereja dari bangsa Israel. Diantaranya  ialah tugas untuk belajar dan mengajar. Dalam sejarah, kita melihat bahwa Allah sendirilah yang memprakarsai untuk memilih bangsa Israel dari berbagai bangsa yang ada di muka bumi ini sebagai milik kepunyaan-Nya atau yang disebut dengan istilah Kahal Yahweh.[1]

Pemilihan bangsa Israel melalui Abraham secara istimewa bukan berarti Allah menempatkan bangsa Israel di atas bangsa-bangsa lain untuk menguasainya. Namun sebaliknya pemilihan tersebut agar semua bangsa di bumi mendapat berkat melalui bangsa Israel.[2]

Dalam pentas sejarah, bangsa Israel seringkali gagal dalam menjalankan tugas sebagai Kahal Yahweh, yakni hidup seturut kehendak-Nya dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Meski demikian, Allah tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas-Nya sebagai Allah Israel, yakni Allah yang menjaga, Allah yang melindungi, dan Allah yang memberkati.

Dalam keterbatasannya, bangsa Israel mencoba untuk merenung dan  memberikan makna pada sejarah (make sense of history) tentang kasih karunia Allah yang begitu besar walaupun mereka sering berlaku tidak setia. Dengan menghayati kasih Allah yang begitu besar,  dan yang tidak pernah meninggalkan mereka maka perbuatan dan kasih  Allah yang besar itu diceritakan dan diajarkan secara turun-temurun. 

Tugas untuk belajar dan mengajar bangsa Israel tentang kasih Allah ini nyata di dalam pengakuan iman Israel, atau yang disebut syema. Syema tersebut terdapat di dalam kitab Ulangan 6:4-9. Dalam syema tersebut, nyata jelas bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang terus belajar dan mengajar tentang Allah. Proses belajar dan mengajar bukan hanya terfokus pada generasi saat itu, tapi juga diperhatikan untuk generasi-generasi selanjutnya.

Jika gereja dianalogikan sebagai umat Israel yang baru seperti yang dikatakan di atas, maka gereja pada saat inipun harus melukukan suatu kewajiban belajar dan mengajar tentang kasih Tuhan kepada seluruh umat. Semangat dan keseriusan dari bangsa Israel dalam hal mendidik umat tentang perbuatan dan kasih Allah harus juga ditiru gereja saat ini. Hal ini jelas telah diterapkan oleh gereja-gereja saat ini. Gereja-gereja tidak hanya mengajar umat melalui penyampaian khotbah, atau nyanyian, tetapi melalui wadah-wadah khusus. Wadah-wadah tersebut misalnya, sekolah minggu, Pemahaman Alkitab, dan juga katekisasi.

Wadah yang paling dikenal untuk belajar tentang kasih Tuhan dan juga gereja adalah melalui katekisasi. Walaupun di sekolah minggu juga sudah diajarkan tentang kasih dan perbuatan Tuhan namun itu perlu dilanjutkan secara lebih mendalam di kelas-kelas katekisasi.

Katekisasi pada umunnya dipahami sebagai pelayanan kepada muda-mudi dewasa sebagai persiapan untuk sidi dan dengan itu diharapkan dapat mengambil keputusan sendiri dalam hubungan dengan pengakuan percayanya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Faktanya sekarang katekisasi bukan hanya diikuti oleh muda-mudi, tetapi juga orang yang sudah tua. Keterlibatan orang yang sudah tua dalam mengikuti katekisasi didasari oleh berbagai alasan. Ada yang memang belum mengikuti katekisasi sejak usia muda, ada yang karena faktor pendidikan yang rendah, faktor bahasa dan lain sebagainya.

GEREJA YANG BELAJAR DAN MENGAJAR
Pengertian Gereja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, Gereja diartikan sebagai tempat ibadah umat Kristen, gedung (rumah) tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen, dan juga badan (organisasi) umat Kristen yang sama kepercyaan, ajaran, dan tata cara.

Secara umum, gereja dapat diartikan demikian, namun gereja memiliki arti yang lebih mendalam dari hanya sekedar gedung atau organisasi semata. Untuk itu, ada baiknya kalau pengertian gereja kita lihat secara etimologis.

Menurut Hadiwijono (2010:362) kata Gereja berasal dari bahasa Portugis, yang jika mengingat akan cara pemakaiannya sekarang ini, adalah terjemahan dari kata Yunani kyriake, yang berarti menjadi milik Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan “milik Tuhan” adalah : orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Jadi yang dimaksud dengan “Gereja adalah persekutuan para orang beriman. 

Kata kyriake sebagai sebutan bagi persekutuan para orang yang menjadi milik Tuhan, belum terdapat di zaman Perjanjian Baru. Istilah ini baru dipakai pada zaman parah rasul, yaitu sebagai sebutan Gereja sebagai suatu lembaga dengan segala peraturannya. Di dalam Perjanjian Baru kata yang dipakai untuk menyebutkan persekutuan  para orang beriman adalah ekklesia, yang berarti rapat atau perkukumpulan yang terdiri dari orang-orang yang dipanggil untuk berkumpul. Mereka berkumpul karena dipanggil atau dikumpulkan. Umat Allah yang utuh inilah yang disebut ekklesia, yang biasanya diterjemahkan dengan jemaat.

Dalam zaman Perjanjian Lama pun umat Allah telah ada yang biasanya disebut  dengan Kahal Yahweh, yang di dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan ekklesia. Di dalam Perjanjian Lama senantiasa ditekankan bahwa Tuhan Allah sendirilah yang memanggil Israel untuk menjadi jemaahNya ( Yesaya 41:9; 42:6; 43:1; dsb ).

Niftrik dan Bolland (1999:359) melihat pengertian gereja dari kata  Yunani ekklesia. Di dunia Yunani kata ”ek-klesia” ( dari kata kerja “kaleo”) mula-mula berarti  : mereka yang “ dipanggil (ke luar)”, yaitu orang-orang merdeka (= bukan-budak, bukan-pelayan) yang oleh seorang bentara dipanggil berhimpun untuk menghadiri rapat rakyat. “Gereja” terdapat dimana ada yang dipanggil,berhimpun, yaitu oleh Allah. Gereja bukanlah suatu organisasi orang-orang yang mau mendirikan suatu perkumpulan guna suatu tujuan tertentu, melainkan orang-orang itu telah dipanggil berkumpul oleh Allah sendiri (Roma 9:24; Efesus 4:1; 2Timotius 1:9).

Sedangkan kata “Jemaat” berasal dari kata Arab “ jama’a”, artinya berkumpul atau mengumpulkan. Istilah “ek-klesia” tidak saja diterangkan dengan kata “dipanggil”, tetapi malah dengan “ dipanggil ke luar ”. sebagaimana Abraham telah dipanggil keluar dari dunia orang kafir (Kejadian 12:1), demikian pula Gereja dipanggil dari dunia bangsa-bangsa ,” keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib” (1 Petrus 2:9; Kolose 1:13). 

Dari uraian panjang secara etimologis tentang pengertian Gereja dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat dilihat bahwa Gereja pada dasarnya merupakan sasaran kasih karunia Allah semata. Dimana umat manusia yang berdosa dipanggil oleh Allah menuju terangNya yang ajaib (ekklesia). Orang-orang yang terpanggil juga  menjadi milik kepunyaan Tuhan (kyriake) dan demikian orang-orang yang menjadi milik Allah dipersekutukan oleh Allah sendiri untuk menyembahNya dan dapat menjadi terang di tengah dunia ini.

Gereja harus melihat kembali keberadaannya sekarang dengan tugas-tugas yang dikerjakannya. Jika pada awalnya Gereja dipanggil dan kemudian semua orang yang terpanggil dijadikan milik Tuhan, maka dalam persekutuan tersebut gereja harus mau diutus untuk menjadi alat keselamatan Tuhan di muka bumi ini. Untuk menjalankan visi yang besar ini gereja harus memulainya dengan tugas misi mengajar dan belajar.

Mengajar dan Belajar Sebagai Tugas Gereja
Manusia dalam eksistensinya adalah makhluk yang belajar dan mengajar. Manusia dapat belajar melalui sesama, alam semesta, pengalaman hidupnya, dan lain sebagainnya dan dengan demikian dapat mengajarkannya juga kepada generasi-generasi penerus. Mengajar merupakan tugas dari gereja. Karena dengan mengajar, gereja juga terus menceritakan tentang perbuatan dan kasih Allah yang besar kepada sesamanya dan juga generasi-generasi penerus. Apakah yang dimaksud dengan mengajar? Beberapa ahli akan memberikan konsep mengajar melalui pemahaman mereka.

Bohar Suharto (1997) mendefinisikan, mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur (mengelolah) lingkungan sehingga tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan peserta didik sehingga terjadi proses belajar yang menyenangkan.

Oemar Hamalik (1922) mendefinisikan mengajar sebagai proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan kepada siswa. Dalam pengertian yang lain, Davies, (1971) menjelaskan bahwa, mengajar adalah suatu aktivitas profesional yang memerlukan ketrampilan tingkat tinggi dan menyangkut pengambilan keputusan.[3] 

Hasibuan (2000) menyebutkan bahwa konsep mengajar dalam proses perkembangannya masih dianggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan pengetahuan.

Singkatnya, mengajar adalah suatu proses yang dirancangkan secara sistematis yang tiap komponennya  menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Jika melihat definisi mengajar di atas, maka gereja mempunyai tugas untuk menyampaikan kebenaran tentang Allah dan diharapkan melaluinya peserta didik dan mengambil keputusannya secara benar.

Jika dalam pembahasan tentang gereja diatas, gereja dipahami sebagai  organisme atau persekutuan orang-orang percaya, maka tentu gereja juga mempunyai tugas untuk mengajarkan tentang Tuhan Allah kepada umat-Nya. Tugas tersebut nyata di dalam  Matius 28:19-20, yang sering disebut Amanat Agung. Dalam amanat tersebut ditugaskan agar gereja[4] dapat mengajarkan kepada semua orang pada waktu itu dan generasi selanjutnya tentang apa yang telah diperintahkan oleh Tuhan Yesus[5].

Memang benar di dalam kekristenan perintah yang paling utama ialah mengasihi, yakni mengasihi Allah dan juga sesama, tetapi perintah itu tidak dapat dilakukan secara baik dan benar kalau tidak diajarkan. Menurut Calvin: Allah telah mempersiapkan dua jenis jabatan gerejawi sebagai pelayan-pelayan Firman-Nya, yaitu pendeta/gembala dan guru (doktor, dalam arti aslinya seorang yang mengajar).[6]

Untuk itulah gereja harus serius dalam menjalankan amanat agung dari Sang Kepala gereja agar perintah saling mengasihi ini dapat dimengerti secara benar dan diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari.

Jika kita membahas tentang gereja yang mengajar, maka pertanyaan yang muncul ialah siapakah yang mengajarkan umat-Nya? Dari teks Matius 28:19-20 menunjukan secara jelas kepada kita bahwa yang diberikan tugas untuk mengajar ialah kesebelas murid. Tetapi itu bukan berarti umat hanya menjadi penerima pengajaran saja. Umat juga dapat mengajar melalui pemberian nasihat seperti yang dituliskan oleh rasul Paulus “ nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan” ( 1 Tesalonika 5:11 ).

Pada hakikatnya tugas mengajar telah dilakuakan oleh Sang Guru Agung, yakni Allah sendiri yang telah mengajarkan bangsa Israel, dan melalui Yesus Kristus yang secara jelas memberikan Amanat Agung untuk mengajar.

Jika berbicara mengenai mengajar maka tidak lepas dari yang namanya belajar. Belajar adalah respon aktif terhadap si pengajar. Belajar menuntun kerelaan untuk mendengar setiap apa yang disampaikan dan memahaminya, serta bersedia melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu, beberapa ahli memberikan definisi  konsep belajar menurut pemahaman mereka.

Skiner (dalam Barlow,1985), mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
M. Sobry Sutikno (2004) mengartikan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
C.T. Morgan (1962) merumuskan belajar sebagai suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.
Thursan Hakim (2002), mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuannya.[7]

Dari beberapa definisi belajar diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar pada haikatnya menuntut adanya perubahan pengetahuan, sikap, dan perbuatan yang terjadi dalam diri peserta didik yang belajar melalui pengalaman belajar yang diikutinya.

Pada kesimpulannya, belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok dari dari keseluruhan proses pendidikan baik dalam pendidikan di sekolah maupun di dalam gereja. Setiap kegiatan belajar mengajar selalu melibatkan dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa.

Sejalan dengan itu, Abineno mengemukakan pendapatnya demikian:[8] Gereja sebagai “persekutuan mengajar”. Gereja bukan saja terpanggil untuk memberitakan Firman, melayani sakramen Baptisan dan Perjamuan,, menggembalakan anggota-anggota jemaat, menolong mereka yang hidup dalam kekurangan, kemiskinan, dan lain-lain, tetapi juga untuk mengajar dan membina anggota-anggotanya, khususnya mereka yang masih muda. Gereja, yang tidak mengajar dan membina anggota-anggotanya, sebenarnya bukanlah Gereja. Ia tidak menunaikan tugas yang dipercayakan Tuhan Gereja kepadanya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gereja (persekutuan orang-orang percaya) harus memprakarsai diri untuk belajar dan mengajar. Jika di dalam persekutuan, umat tidak diaktifkan untuk belajar, dan pengajar di gereja pun tidak menaruh perhatian penuh terhadap panggilannya, maka berlakulah ungkapan:."Gereja berjarak hanya satu generasi jauhnya dari kepunahan." Ungkapan itu terdengar seperti klise lama, tetapi itu benar. Jika kita tidak terus mendidik orang tentang arti menjadi Kristen, maka iman akan segera mati. 

Kiranya melalui tulisan ini kita dapat berefleksi bersama untuk mewujudkan gereja yang dapat belajar dan mengajar sesuai dengan hakikatnya. Kiranya Tuhan Yesus Sang Guru Agung itu menolong kita. 



[8] Lihat Abineno, Sekitar Katekisasi Gerejawi (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2012) 85 


[7]Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: PT Refika Aditama, 2007) 5&6


[6] Robert Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011) 418


[5]Kesebelas murid disebut gereja karena mereka adalah persekutuan yang percaya kepada Kristus.
[4]Bandingkan Matius 28:20
[3]Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: PT Refika Aditama, 2007) 7, (perubahan diubah oleh penulis)


[2]Bandingkan Kejadian 12:2-3

[1]Bnd Harun Hadiwijono, Iman Kristen ( Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2010) 363