Wise People Never Stop Learning
Penggunaan peralatan elektronik canggih dalam gereja-gereja di Indonesia telah berkembang dengan pesatnya. Tentunya generasi muda sangat menyukai dan meminatinya: kita tidak ketinggalan zaman, kita ikut modernisasi global. Dengan itu generasi muda kerasan dalam gereja, apalagi kalau mereka sendiri menanganinya serta bereksperimen dengannya. Sound system memang penting dalam ibadah gereja, asal ditangani dengan pengetahuan dan keterampilan yang prima. Suara para pelayan liturgi harus dapat didengar dengan jelas tanpa distorsi akustis. Untuk itu diperlukan mikrofon-mikrofon dan speaker-speaker yang dapat diandal-kan. Peralatan kerkualitas tinggi pasti mahal, tetapi sangat bemanfaat bagi umat yang hadir.

Namun ada beberapa aspek dari penggunaan elektronik yang mengundang masalah-masalah, kalau tidak dikendalikan dengan bijaksana.
a. Ada yang berpikir bahwa pidato dan musik di gereja baru menjadi mengesankan, apabila suaranya sekeras mungkin (membantu Roh Kudus?). Tidak jarang bunyi musik begitu keras di dalam gereja, sehingga puluhan meter di luar gedung masih tetap kedengaran dan mungkin mengganggu orang lain (demi kesaksian dan pekabaran Injil?). Maka, menurut saya, ada alasan untuk meng-undang tiga pakar: 1) ahli akustik yang mengukur jumlah decibel yang dipakai; 2) dokter THT yang menilai apakah jumlah decibel itu tidak membahayakan bagi pendengaran. Dewasa ini sudah banyak anak muda yang pendengarannya serius terganggu oleh bunyi musik yang terlalu keras melalui speaker (di disco atau di gereja atau melalui head-phone); 3) ahli sosiologi yang meng-adakan penelitian terhadap kesabaran dan daya tahan masyarakat di sekitar gedung gereja yang bersangkutan (“kapan gereja akan dibakar?”). Juga apabila gereja itu kedap suara, laporan dan nasihat dari ahli 1) dan 2) tetap perlu diperhatikan.

b. Kalau bunyi iringan musik terlalu keras, maka suara nyanyian umat tenggelam di dalamnya: para anggota sudah tidak sempat lagi mendengar suaranya sendiri, apalagi menikmati keseluruhannya. Ada yang oleh kerena itu sudah tidak ikut menyanyi lagi. Kita harus waspada terhadap ‘teror sound system’, entah dari atas menara, dari mimbar atau dari ‘singers’ serta seksi pengiring instrumental yang dirajai oleh kibor. Umat yang hadir itu bukan bawahan dari diktator akustik, seakan-akan mereka adalah kawanan robot yang harus didril dan diprogram seperti tentara di Korea Utara: suara hati dan mulut mereka dibungkamkan, tak usah didengar.

c. Juga rhythm-box merupakan fasilitas elektronik. Bagus untuk bekenalan dengan aneka ragam ritme, untuk belajar membuat komposisi, membantu untuk membuat rekaman lagu-lagu pop (sekalipun perkusi yang live jauh lebih bagus). Namun, apabila nyanyian umat diiringi oleh organ atau kibor yang terus memakai kotak birama itu, maka semua nyanyian bersama mungkin menjadi ramai, tetapi tidak hidup lagi: nyanyian itu dipaku mati dengan ketukan yang tetap dan tidak ikut bernafas, tidak mengenal release, tidak bisa dimunuendo atau memperhatikan fermata, tidak tahu cesura (pembatas bagian-bagian lagu) seperti layaknya dalam komposisi berseni – hanya tahu 4 ketuk dan 3 ketuk, sehingga lagu yang berbirama bebas atau yang berbirama 5 dan 8 ketuk tidak dapat diiringi lagi (6 dan 9 ketuk sudah meleset); sedemikian juga birama bebas (berkelompok biner + terner, seperti dalam Mazmur Jenewa), apalagi pendarasan Psalmodia. Akibatnya, banyak lagu yang bagus tersingkir dari repertoar nyanyian gereja, sebab para pengiring tidak mampu menyelenggarakannya. Lagu-lagu etnis pun (kalaupun masih dihargai) terancam rusak oleh praktek seperti itu dan akhirnya punah, betapapun bagusnya.

d. Sama halnya kalau pengiring (pemain organ atau kelompok band) tidak memakai rhytm-box, tetapi membiarkan dirinya sendiri menjadi mesin ketukan yang menekankan semua aksen menjadi sama, termasuk aksen ringan (‘satu-satu-satu-satu’), sehingga si peng-iring itu menjadi peng-giring yang memasung nyanyian umat dalam kungkungan otomat yang tidak manusiawi lagi. Tidak kedengaran lagi perbedaan antara intro, lagu umat dan interlud (yang sebetulnya tidak diperlukan jika setiap bagian nyanyian diakhiri dengan wajar) karena ‘kereta api’ itu tidak berhenti di ‘halte-halte’ dan ‘stasiun-stasiun’. Maka umat juga tidak sempat memperhatikan batas-batas dan tidak jarang kurang menyadari bahwa nyanyiannya sudah mulai, sehingga baru ikut ‘naik kereta’ beberapa suku kata sesudah ‘halte’ telah dilewati. Itu bukan kesalahan umat, melainkan kegagalan pengiring yang belum belajar ikut bernafas dengan nyanyian umat.

e. Ada yang berpendapat bahwa semua musik dewasa ini harus memakai ritme perkusi, entah perkusi elektronik atau perkusi alami. Tetapi belum pernah saya mendengar adanya keberatan kalau musik film atau sinetron menggunakan musik lain yang mendukung suasana (lembut, romantis, dahsyat dst) tanpa paksaan ritme. Musik ritmis tentu berguna untuk dansa-dansi, tetapi tidak seluruh hidup bersifat tari menari. Ada juga jenis-jenis musik lain yang perlu kita pelihara, demi sekian aspek ekspresi hati dalam nyanyian. Semoga para pengiring nyanyian umat menekuni segala macam ekspresi musikal yang mendukung jiwa lagu yang ingin kita sukseskan bersama-sama.   

Seyogyanya pengiring turut bernafas dengan wajarnya bersama-sama dengan jemaat yang bernyanyi, sehingga permainan instrumental mengikuti nyanyian itu – dan tidak sebaliknya: seolah-olah umat harus mengikuti bunyi instrumen yang disalahgunakan. Mudah-mudahan kita masih sempat membebaskan diri dari perbudakan musikal oleh berhala elektronika. Mikrofon dan speaker adalah alat-alat bantu yang yang sangat bermanfaat, asal bantuannya jangan berlebih-lebihan. Kalau bantuan berubah menjadi pemaksaan, maka tujuan praktis dari elektronika sudah dilampaui.

Ada yang menganggap suara artifisial lebih bagus dari pada suara alami. Apakah kita memang lebih pandai dari pada Pencipta alam semesta, yang membentuk alat pendengaran kita secara efisien dan memadai? Bagaimanapun juga, bunyi yang diperkeras dengan peralatan elektronik pasti ada distorsinya. Lagi pula jumlah Herz-nya agak terbatas dan tidak meliputi feedback dari lengkapnya getaran harmonik alam yang banyaknya sampai pangkat ᴺ, tak terbatas. Pendek kata: gelombang-gelombang suara alam menghasilkan suara yang paling komplit dan paling bagus, Gendang-gendangan telinga kita pas untuk menangkapnya. Kalau kita tuna rungu, yah, kita memerlukan alat bantu elektronik; kalau ruangan besar, pembicara memerlukan mikrofon dan sound system. Tetapi hanya para diktatorlah yang menyalahgunakannya dengan membuka volumenya sampai proporsi apokaliptik yang menakutkan. Apa memang itu yang kita inginkan dalam ibadah gereja?

Apa benar bahwa suara setiap penceramah, pengajar, pembaca dan pembawa renungan harus diperkeras, sekalipun dalam ruangan yang relatif kecil? Jauh lebih baik kita berlatih menggunakan alat-alat bicara kita sendiri seoptimal mungkin dengan menguasai dukungan nafas (jangan suara kita anjlok menjelang akhir kalimat), merawat suara, memakai ronga-rongga resonansi, memelihara artikulasi serta mendalami seni retorika, yaitu agar supaya pesan-pesan kita benar-benar sampai kepada para pendengar. Apabila pengeras suara sebenarnya tidak diperlukan, mengapa kita masih tetap kegandrungan memakai sound system di ruang yang relatif kecil? Hanya untuk mengikuti ‘zaman modern’ dan jangan dianggap orang ‘jadul’?

Ada lagi suatu penyakit sehubungan dengan penggunaan sound system dalam ibadah gereja. Mikrofon tidak hanya ada di depan pengkhotbah di atas mimbar, tetapi juga di depan lektor di mimbar kecil, lagi pula di depan pemimpin nyanyian dan para ‘singers’. Maka terjadi suatu kompetisi yang membingungkan: kalau pemimpin nyanyian (dirigen umat, prokantor) sedang berfungsi, terjadi persaingan dari pihak lain. Apa semua dengan suara masing-masing memimpin serempak? Siapa yang memimpin? Kalau pengkhotbah serta pembaca ikut menyanyi tanpa mundur secukupnya dari mikrofon, maka efeknya adalah bahwa ada tiga pemimpin sekaligus. Dua atau tiga kapten di kapal yang sama bisa membahayakan: jangan sampai kapal itu keliru haluan dan tidak akan sampai ke pelabuhan. Bisa jadi pengkhotah atau pemabaca dengan suara kerasnya salah nyanyi dengan tidak memperhatikan not, ritme dan tanda diam….. Maka pemimpin nyanyian menjadi kewalahan! Jika pengkhotbah atau pembaca tidak mau mundur dari mikrofon (setengah meter ke belakang atau ke samping mungkin sudah cukup) oleh karena ia ingin mendengar suaranya sendiri, maka operator sebaiknya mematikan mikrofonnya untuk sementara. Yang bersangkutan tidak usah marah-marah, sebab ia memang tidak ditugaskan untuk menjadi pemimpin nyanyian. Juga dalam hubungan ini nasihat dari rasul Paulus dalm 1 Korintus 14: 40 bukanlah tanpa alasan!

Tugas utama pemimpin nyanyian ibadah ialah menuntun nyanyian umat bersama-sama dengan paduan suara dan solis-solis. Kadang-kadang ia memerlukan mikrofon, tetapi itu tak perlu bagi lagu-lagu yang sudah cukup dikenal oleh umat dan ternyata dapat diselenggarakan dengan tepat. Itu juga berlaku bagi para ‘singers’. Kerapkali ‘singers’ itu terlalu mendominasi nyanyian umat, sehingga keindahannya hilang. Juga anggota umat yang sakit atau lanjut usia, yang mengikuti ibadah gereja melalui radio, sistem telefon atau rekaman, lebih senang mendengar nyanyian umat ketimbang suara para solis yang mengganggu nyanyian umat itu. Dan tentunya ini berlaku untuk semua orang yang kebetulan menyaksikan ibadah gereja melalui media komunikasi massa. Para penyanyi di depan mikrofon perlu menyadari bahwa fungsi mereka (sama seperti fungsi sound system) adalah melayani dan bukan merajai.

Selamat menggunakan segala alat bantu elektronik secara proporsional! 



A Capella Atau Dengan Iringan Instrumental
Di dalam Alkitab terdapat keterangan bahwa nyanyian ibadah di Bait Allah diiringi dengan alat-alat musik. Ini dapat kita baca pada banyak Mazmur (yang paling jelas: Mazmur 150) dan di  tempat-tempat lain, misalnya 1 Tawarikh 25: 6-8. Namun, sesudah Bait Allah di Yerusalem diruntuhkan dan umat beribadah dibuang ke Tanah Babel, kita baca dalam Mazmur 137, bahwa “kita menggantungkan kecapi kita kepada pohon-pohon gandarusa di tempat itu”, yakni di tepi sungai-sungai Babel. Di sana umat berkumpul di sinagoga dan tidak memainkan alat musik lagi untuk mengiringi nyanyian sukacita mereka, bukan oleh karena mereka tidak menyukainya, melainkan oleh karena mereka begitu menyukainya, sehingga mereka berkabung atas kehancuran Yerusalem dan Bait Kudusnya. Maka untuk selanjutnya, sampai sekarang ini, di sinagoga-sinagoga ortodoks tidak ada alat-alat pengiring nyanyian. 

Sedemikian juga di Gereja selama 1000 tahun lebih: semua nyanyian dilagukan tanpa iringan. Sampai sekarang ini Gereja-gereja Ortodoks Timur tidak menggunakan pengiringan instrumental untuk nyanyiannya, seperti misalnya dalam Gereja Ortodoks Indonesia di Jakarta: kunjungilah Gereja itu dan belajarlah tentang hakikat Gereja dan ibadahnya (ternyata ada daya misionernya: kawula muda pun tertarik). Bahkan dalam agama Islam tradisi itu diteruskan pula: dalam mesjid tidak ada organ, piano, kibor, band, drum set dsb. Apakah musik ramai di sementara gereja-gereja Protestan mempunyai daya misioner? 

Pengiringan Dengan Alat Musik dan Para Pemainnya
Penggunaan alat-alat musik dalam ibadah gereja sebetulnya belum begitu lama. Di kebanyakan gereja baru beberapa ratus tahun. Pada zaman para reformator Gereja, baik Luther maupun Calvin, nyanyian jemaat diselenggarakan tanpa iringan orgel. Orgel-orgel memang sudah ada di beberapa gedung gereja di kota-kota besar, tetapi ukurannya masih agak kecil, sehingga bunyinya kurang kuat untuk mengiringi nyanyian orang banyak. Luther menyetujui musik orgel dalam gereja, misalnya untuk mengiringi paduan suara pemuda. Calvin tidak menyetujuinya, rupa-rupanya oleh karena para seniman pemain orgel waktu itu agak mirip dengan pemusik di pasar malam. Andaikata Calvin sempat mengalami perkembangan orgel (dan organis) selanjutnya, ia mungkin sangat mendukung penggunaannya sebagai alat pengiring nyanyian bersama. Tetapi, andaikata beliau menghadiri ibadah Protestan di Jakarta, mungkin saja ia menggeleng-geleng kepala, begitu juga Martin Luther.

Pada zaman Reformasi dan cukup lama sesudahnya, nyanyian umat dipimpin oleh para ahli nyanyian yang disebut ‘chantre’, ‘cantor’, ‘precentor’ (di Indonesia belakangan ini disebut ‘prokantor’), yakni suatu fungsi dalam ibadah gereja yang diwarisi dari tradisi Yahudi dan Gereja Lama sepanjang segala abad. Semoga fungsi itu kita pelihara terus dan kita tingkatkan sesuai dengan statusnya yang sebenarnya (bukan pemusik kelas dua). Fungsi ‘prokantor’ itu lama-kelamaan digeser oleh para organis. Sayangnya banyak organis terlalu amatiran, sehingga nyanyian umat tidak diselenggarakan seperti semestinya. Oleh karena itu nyanyian umat kurang disenangi oleh angkatan muda. Tetapi apabila kita mendengarkan rekaman dari acara ‘hymn singing’ (nyanyian umat) di Gereja Anglikan, kita menjadi sangat tertarik, karena bermutu tinggi dan diselenggarakan dengan gemilangnya. Untuk menyelamatkan nyanyian umat di gereja-gereja kita dewasa ini, perlu kita membentuk kader-kader pengiring instrumental yang pandai dan terampil.

Para pengiring (organis, pianis, kibordis, anggota band dst) perlu memahami ciri-ciri khas nyanyian gereja. Peng-iring-an tidak sama dengan peng-giring-an. Alat pengiring mengabdi pada nyanyian umat, tidak memaksa. Para pengiring harus ikut bernafas dengan umat yang bernyanyi. Pengiring instrumental harus bisa berhenti pada akhir bait dan di antara bait yang satu dan yang berikutnya. Ia harus memiliki keterampilan yang diikutsertakan dengan ‘psikologi nyanyian bersama’, sehingga ia sanggup menuntun dengan baik. Jemaat itu bukan orang-orang bodoh yang kurang mampu. Yang bodoh adalah pengiring yang belum menguasai teknik pengiringan. Tidak jarang nyanyian jemaat tanpa iringan diselenggarakan dengan lebih wajar, asal jangan ‘dipandu’ oleh seorang ‘mikrofonis’ (termasuk pendeta dan pemimpin nyanyian) yang tidak tahu bahwa titik dan nol mempunyai nilai dan perlu diperhitungkan (tidak hanya dalam perhitungan gaji). Not panjang (berapa titik) dan tanda diam (berapa panjang) di akhir baris jangan diabaikan. Nyanyian jemaat menjadi tergesa-gesa, tidak stabil, kurang khidmat, kalau pemimpinnya (prokantor, organis, pianis, kibordis) tidak bisa menghitung.    

Otomatisme Yang Mematikan 
Ada pengiring yang menggunakan ‘rhythm-box’ yang terdapat pada organ elektronik dan kibor. Rhythm-box itu adalah sebuah otomat/robot yang tidak ikut bernafas, tidak mengenal jiwa nyanyian, tidak bisa berhenti pada akhir setiap bait nyanyian, tidak tahu attack dan release, tidak mungkin melaksanakan ritardando atau fermata, tidak membedakan birama 3 ketukan dari 6, 9 atau 12 ketuk. Tidak mampu mengiringi lagu berbirama bebas seperti Mazmur Jenewa, apalagi memproduksi birama 5 ketuk (KJ 180) serta 7, 8, 10, 11 ketuk … Maka banyak nyanyian dari kekayaan tradisi gereja terancam punah oleh karena tak dapat dituntun oleh alat pengiring.

Ada juga pengiring yang sendiri menjadi otomat: sekalipun tidak memakai rhythm-box, ia tetap menekankan setiap ketukan (seolah-olah birama nyanyian itu hanya satu ketuk saja). Ia juga tidak berhenti di akhir bait dan di akhir intro atau interlud. Maka jemaat susah meramalkan kapan nyanyiannya mulai, sehingga sering baru mulai menyanyi pada suku kata kedua atau ketiga. Ia masih harus belajar bahwa ada perbedaan antara ketukan pertama dan ketukan berikutnya: ada yang kuat, ada juga yang lemah atau sedang. Pada not panjang, ketukan hanya perlu diingat ‘dalam hati’, tak perlu ‘dipukul’. Tidak jarang setiap nyanyian gereja menjadi seperti mars militer (tu-dwa-ga-pat): “Su-ci, su-ci, su-hu-ci-hi Tu-han Ma-ha-kua-ha-sa-ha, Di-kau ka-mi pu-hu-ji di pa-gi yang te-du-hu-hu-hu”. Cara mengiringi itu mencabut nafas hidup dari nyanyian gereja.

Jumlah Decibel Yang Terlalu Besar
Ada pengiring dan operator sound-system yang berpendapat bahwa bagus adalah sama dengan sekeras mungkin. Kasihan musik gereja dulu-dulu, seperti misalnya musik Bach, belum bisa benar-benar bagus, karena tidak pakai pengeras suara. Tidak perduli kalau ada orang di gereja yang tidak tahan mendengar musik keras itu. Ada bukti bahwa alat pendengaran dari banyak orang muda sudah rusak oleh sound yang tak terkendali di disco atau melalui head-phone. Rasanya aneh kalau ada yang berpikir bahwa pesan Roh Kudus baru meyakinkan apabila memakai suara menggelegar seperti  guntur, sedangkan nabi Elia malah justru bertemu dengan Tuhan dalam kesunyian, teriring “bunyi angin sepoi-sepoi basa” (1 Raja-raja 19: 12). 

Di Gereja Katolik ada peraturan tentang jumlah decibel yang pantas. Orgelnya pun berbunyi sopan: cukup keras untuk dapat didengar dan untuk mengiringi nyanyian – tidak lebih dari itu. Di gereja-gereja Protestan tidak atau belum ada peraturan tentang penggunaan sound-system. Kebanyakan orang menerima saja kemauan sesama anggota gereja yang senang dengan bunyi keras karena takut dianggap ‘jadul’ dan ‘gaptek’, alias kurang ‘modern’. 

Tidak sedikit anggota jemaat tidak ikut bernyanyi lagi, karena kerasnya bunyi musik pengiring mengakibatkan mereka tidak lagi bisa mendengar suara mereka sendiri, apalagi suara seluruh jemaat bersama-sama. Nyanyian bersama (community singing) mempunyai keindahan tersendiri yang gampang hilang apabila digilas oleh musik pengiring yang kelewatan kerasnya. Paling repot kalau para pemimpin gereja sendiri mempropagandakan musik hingar-bingar seperti itu, entah demi ‘modernisasi’, atau untuk mengikuti selera generasi muda, atau untuk mencari popularitas. Bagaimanapun juga, kalau musik di gereja tidak berkualitas, entah musik kuno, tradisional etnis atau ‘kontemporer’, daya tariknya lekas sirna: musik klasik, musik daerah, musik pop di luar gereja jauh lebih bermutu! Mana ada orkes simfoni yang setiap instrumennya dilengkapi dengan mikrofon? Suling dan biola tunggal saja sudah cukup jelas kedengaran dalam suatu ruangan besar seperti gedung kesenian atau gedung gereja. Musik keras kurang mengajak orang untuk ‘menguping’ kalau volumenya tidak bisa mengecil sampai ppp.

Mendalami Karakter Nyanyian 
Ada nyanyian gereja yang sifatnya gembira sekali, tetapi tidak semua nyanyian harus demikian. Di dalam Kitab Mazmur terdapat kumpulan ekspresi hati manusia yang amat bervariasi dalam mencerminkan perasaan manusia di hadapan Tuhan: keyakinan dan kebingungan, sukacita dan kesedihan, pesta dan perkabungan, pengharapan dan keputusasaan, keberserahan dan pemberontakan, kebanggaan dan kerendahan hati,  puji syukur dan seruan minta tolong, rasa bahagia dan keluhan serta banyak kontras lainnya. Semua aspek hidup beriman itu sah saja dan menjadi contoh bagi semua nyanyian umat Tuhan selanjutnya.

Tentunya, pemusik-pemusik gerejawi seperti prokantor, pemimpin paduan suara serta para pengiring instrumental perlu turut menghayati karakter dari setiap nyanyian yang mereka pimpin atau iringi, lalu memilih suara atau kombinasi suara yang sesuai. Juga tempo nyanyian itu perlu dipikirkankan. Kalau tidak ada petunjuk untuk kecepatan, pengiring sendiri harus menentukannya dengan menyenandungkan melodi sambil merenungkan kata-kata syairnya. Ingat: tempo cepat atau tangganada mayor tidak selalu menggambarkan kegembiraan dan tempo lambat atau tangganada minor tidak selalu menunjukkan kesedihan. Akhirnya isi kata-katalah yang harus disampaikan melalui lagu itu, entah dalam tempo lambat atau cepat, dalam tangganada minor atau mayor. Kita perlu mengembangkan feeling (perasaan) musikal yang turut menentukan tempo yang pas. 

Tempo cepat, sedang atau lambat itu sama sekali tidak ditentukan oleh penulisan not. Penulisan not-not itu pada dasarnya bersifat relatif dan hanya disesesuaikan dengan penyelenggaraan praktisnya. Misalnya lagu KJ 123 (“S’lamat, s’lamat datang”) ditulis dengan  dua ketuk yang masing-masing dibagi dua dalam birama pertama. Ada yang berpikir bahwa temponya harus sangat cepat, yakni berdasarkan garis-garis pembagi itu. Tetapi temponya yang pas tidak lebih cepat dari MM 60 per ketukan: cukup tenang, namun tetap mengalir lincah. Oleh karena itu lagu ini tidak dinotasi dengan 4 ketuk tetapi dengan 2 ketuk.

Bentuk Syair dan Lagu Serta Cesura     
Ada nyanyian sederhana yang hanya terdiri atas dua baris per bait. Ada juga dengan tiga baris. Lebih sering dan mungkin paling sering ada nyanyian dengan empat baris (seperti hymne-hymne kuno dan hymns dari tradisi Gereja Inggris). Kalau skema sanjaknya adalah aa,bb atau ab,ab, maka keempat baris itu dapat dibagi atas 2 x 2 baris dengan pembatas (cesura) di tengah-tengah. Ini mirip dengan gejala pause dalam hymne gregorian dari Abad Pertengahan: pausa minor (pause pendek, ditandai oleh garis pendek vertikal  ˡ ) di antara baris pertama dan kedua dan di antara baris ketiga dan kempat; lalu pausa mayor (pause lebih panjang, ditandai oleh garis panjang vertikal  │ ) di antara baris kedua dan ketiga; akhirnya pausa finalis (pause akhir, ditandai oleh garis panjang ganda vertikal  ǁ ) di akhir tiap bait. Pausa minor: tarikan nafas pendek; pausa mayor: tarikan nafas lebih panjang sedikit; pausa finalis: penutup/berhenti. Pengiring instrumental harus ikut bernafas sambil mengekspresikannya dalam cara mengiringi! Hati-hati: jangan terlalu panjang tarikan nafas itu – pausa itu seharusnya hampir tak terasa!
Sedemikian juga ada cesura dalam lagu-lagu lain, yakni pembatas yang perlu ikut diperhitungkan oleh pengiring. Contoh: KJ 2 (“Suci, suci, suci”; 4 baris, ab,ab):

Suci, suci, suci Tuhan Mahakuasa!      <tarikan nafas sangat pendek>
Dikau kami puji di pagi yang teduh.    <tarikan nafas lebih panjang sedikit: di sini cesura>
Suci, suci, suci, murah dan perkasa,    <tarikan nafas sangat pendek>
Allah Tritunggal, agung nama-Mu!     <berhenti> 

Contoh lagi: KJ 276 (“Bangunlah! Dengar suara”; 12 baris, aab,ccb;dde,fff ):
              Bangunlah! Dengar suara                <tarikan nafas sesuai angka 0>
              memanggil tinggi di menara:          <tarikan nafas sesuai angka 0>
              Yerusalem, hai bangunlah!             <tarikan nafas lebih panjang sedikit>
              Bergema suara lantang                    <tarikan nafas sesuai angka 0>          
              pertanda sudah larut malam:           <tarikan nafas sesuai angka 0> 
              Hai para putri, jagalah!                   <tarikan nafas lebih panjang: di sini cesura >
              T’lah datang Mempelai;                 <tarikan nafas sesuai angka 0>
              pelita ambillah!                              <tarikan nafas sangat pendek>
              Haleluya!                                       <tarikan nafas lebih panjang sedikit>
              Bersiaplah                                      <tarikan nafas sangat pendek>
             ke pesta-Nya                                   <tarikan nafas sangat pendek>
             dan sambut Dia segera!                  <berhenti>

Perhatikan juga bahwa syair nyanyian di atas ini berbentuk cawan Perjamuan Kudus. Juga jumlah 12 baris ada pengertian simbolisnya.
 Pernafasan memainkan peranan penting dalam pembawaan dan pengiringan nyanyian
ini. Jika nyanyian seperti ini dibawakan dengan cara robot, maka nyawanya melayang
dan yang tinggal hanya tulang-tulangnya.
 Latihan: di mana cesura (tarikan nafas secukupnya, walau hampir tak terasa) dalam buku Kidung Jemaat, Nr. 17, 23, 31b, 86, 93, 114, 115, 138, 139, 157,160, 220, 250b, 263, 282, 290, 314, 322, 324, 412.  

Prelud, Interlud, Postlud dan Modulasi
Prelud’ juga disebut ‘Intro’. ‘Prelud’ adalah permainan pendahuluan dan ‘Intro’ adalah introduksi, perkenalan. Suatu nyanyian dapat juga diperkenalkan dengan ‘Intonasi’, yakni suatu intro yang amat pendek, permainan singkat yang menentukan tinggi nada. Lagu-lagu yang bersifat aklamasi (nyanyian pendek yang mengaminkan) dalam liturgi sebaiknya tidak didahului oleh ‘prelud’ atau ‘intro’, paling-paling oleh intonasi sangat pendek atau hanya satu nada saja + nafas tenang, sama pendek dengan nada yang dibunyikan dalam tempo dari nyanyian yang akan diiringi. Prelud/Intro bermanfaat untuk menentukan suasana nyanyian, tinggi nadanya dan temponya. Perlu dijaga agar tempo prelud sama dengan tempo nyanyian yang bersangkutan. Jangan intronya cepat, lalu nyanyiannya tiba-tiba lambat. Pengiring sudah harus menentukan tempo yang wajar sebelum ia memainkan intro.

Bagaimana beralih dari intro ke bait pertama? Jika tangan pengiring terus melengket pada klavir, maka tidak jelas bagi jemaat kapan diharapkan mulai menyanyi. Seninya pengiring ialah: berhasil mengajak jemaat mulai menyanyi serempak pada saat yang pas. Untuk itu ia harus mengangkat tangannya dari klavir sebagai tanda memberi kesempatan kepada jemaat untuk menarik nafas. Lalu ia mulai memainkan iringan nyanyian dalam tempo yang sudah ditentukan dalam Intro (jadi tanpa memperlambat/ memperpanjang ketukan pertama). Jemaat jangan harus menunggu: harus ada kepastian, juga supaya suku kata pertama dari nyanyian bersama itu jangan hilang. Ketukan yang kosong antara Itro dan awal nyanyian tetap dalam tempo semula. Jika nyanyian dengan 4 ketuk mulai pada ketukan pertama, maka pengiring mengangkat tangannya dari klavir pas pada awal ketukan keempat yang kosong. Sedemikian juga untuk semua ketukan lainnya: ketukan terakhir dari Intro dikosongkan dan tangan diangkat dari klavir, lalu mulai lagi pas pada waktunya. 

Sesudah bait pertama selesai dinyanyikan, si pengiring langsung siap untuk memainkan iringan untuk bait berikutnya. Yang paling mantap ialah peralihan tanpa interlud lagi. Ada sela sedikit untuk menarik nafas dengan tenang. Ternyata ada ‘kebijaksanaan’ (keputusan majelis?) agar pengiring memainkan interlud, yakni supaya jemaat sempat bernafas sementara permainan instrumen berjalan terus tanpa berhenti. Tetapi belum tentu jemaat mulai melagukan bait berikutnya tepat pada ketukan awal, karena juga antara interlud dan bait berikutnya tidak ada sela! Pemain instrumen (juga dalam band) harus bisa berhenti. Rhythm-box jangan dipakai (biar itulah yang menjadi keputusan majelis). Tentunya diperlukan latihan matang dalam hubungan ini, sebaiknya bersama-sama dengan rekan-rekan pengiring instrumental.

Modulasi ke tinggi nada lain? Itu memang sana-sini menjadi trend, seolah-olah menjadi 
suatu keharusan. Mungkin saja si pengiring ingin memperdengarkan kebolehannya,
tetapi modulasi tidak otomatis cocok untuk semua nyanyian, apalagi kalau ambitus lagunya (jangkauan antara nada terendah dan tertinggi) sudah besar. Hematlah dengan modulasi.  

Kesederhanaan
Kesederhanaan adalah tanda pengenal dari yang benar. Pengiringan nyanyian jemaat bersifat pengabdian. Jangan sampai ada kesan seolah-olah suara intrumen-instrumen pengiring lebih penting dari nyanyian yang diiringi.  Tentunya segala kreatifitas dan fantasi kita boleh kita pakai, asal tetap dengan tujuan menjiwai nyanyian gereja, sehingga jemaat benar-benar menemukan ekspresi imannya di dalam nyanyian itu. 

Jakarta, 22 Augustus 2014

            Harry van Dop

Add caption
Ada banyak tempat di Indonesia yang mengesankan dan membuat pengunjungnya menyukai tempat tersebut. Salah satu tempat ialah Jogjakarta. Saya sendiri baru sekali mengunjungi tempat tersebut. Mumpung masih di Jakarta dalam rangka melanjutkan studi, saya pun mencoba untuk berkunjung ke Jogja. Kunjungan saya pada saat bulan November. Kunjungan pertama saya bukan dalam rangka liburan semester, tetapi karena ada tour  Paduan Suara dari Kupang. Hampir sebagian besar anggotanya adalah teman-teman saya.

Saya berangkat dari Jakarta bersama dua rekan saya, salah satu diantaranya pernah studi di Jogja, jadi mengenal tempat-tempat di sana dengan baik. Perjalanan kami menggunakan Kereta Api sehingga cukup lama. Waktu yang tertera di tiket K.A dari Jakarta ke Jogja adalah 8 jam, tapi waktu itu kami terpaksa 12 jam di perjalanan karena ada kesalahan teknis pada K.A. Paling tidak ini merupakan sebuah kesan bagi saya, yah kesan yang kurang menyenangkan karena perjalanan yang tidak semestinya.

Setibanya di Jogja, ternyata rekan-rekan dari Kupang juga baru tiba. Mereka juga menempuh perjalanan yang panjang karena landing di Surabaya lalu melanjutkan perjalanan ke Jogja. Meski dalam keadaan lelah kami tetap saling menyapa dengan hangat sebelum beristirahat. Keesokan harinya jadwal tour mulai dilakukan, dan diguide oleh beberapa teman yang memang menguasai tempat-tempat wisata di Jogja. Mulai dari Candi Borobudur, Prambanan, Gunung merapi, Istana Kraton dan juga tempat belanja seperti Malioboro. Waktu malam pun disempatkan untuk pergi ke alun-alun selatan. Di sinilah saya mencoba berjalan melewati beringin kembar, namun belum berhasil. Hiburan lainnya ialah dengan mencoba mobil blink-blink hasil modifikasi kreatif dari masyarakat Jogja.

Waktu untuk menikmati keindahan alam di Jogja, berbagai hiburan dan berbelanja dilakukan selama 3 hari. Kegiatannya inti berada di hari Minggu. Yah, kali ini saya mengunjungi 4 gereja bersama anggota PS Mission Voice. Mulai dari GKJ Sari Mulyo pada jam 6:30 pagi, Gereja Baptis Indonesia yang mendadak meminta untuk PS Mission Voices bernyanyi tanpa mengikuti kebaktian sebelum berangkat ke GKI Gejayan pada jam 9:00. Geraja yang terakhir adalah GBI The Seed, mulai jam 6 sore, dan berlokasi di dalam kompleks penginapan kami.


Sungguh komplit perjalanan kali ini, wisata alam dinikmati, wisata kuliner, berbelanja, dan terakhir ditutup dengan 'wisata rohani'. Banyak kesan yang diperoleh dari perjalanan pertama ini. Mulai dari naik kereta 12 jam, padahal yang seharusnya 8 jam, bertemu teman-teman, melepaskan kepenatan di tengah-tengah menempuh studi, dan yang lebih berkesan lagi, semuanya itu dilakukan di Jogja.

Lalu apa yang membuat Jogja itu ngangenin? Apakah karena Candi Borobudur atau Prambanan, atau wisata kuliner, atau berbelanja? Pertanyaan-pertanyaan itu mempunyai jawaban tersendiri bagi setiap kita. Saya  pribadi terkesan  dengan banyak hal yang ada di Jogja. Mulai dari tempat-tempat wisata dengan alam yang indah, kulinernya, kearifan lokal budaya setempat, orang-orang yang kreatif dan juga ramah. Mungkin dari kita ada yang memiliki daftar alasan kenapa Jogja itu ngangenin. Tapi bagi saya, itulah yang saya rasakan. Jogja memberikan kesan pertama yang indah bagi saya, dan tak perlu lagi banyak alasan untuk kembali ke kota yang indah ini.

Jogja adalah Jogja, Jogja bukan Jakarta, atau Kupang, tempat kelahiranku yang tercinta. Jogja memang indah dan ngangenin, tapi itu tidak berarti bahwa saya membandingkan Jogja dengan Kupang. Laksana mentari pagi yang terbit di ufuk timur dan terbenam diufuk barat, demikian juga kita, tidak dapat memilih di mana kita lahir, namun kita dapat memilih ke mana kita akan pergi. Kupang adalah tempat kelahiranku dan Jogja adalah tempat yang kupilih untuk pergi.


Perjalanan pulang saya kembali ke Jakarta menggunakan Kereta Api pada Senin pagi hari, setelah 5 hari berlibur. Dengan keadaan yang sedikit lelah, saya mencoba untuk membaca buku dalam perjalanan. Saya duduk di samping seorang pemuda Belanda yang menyukai musik. Perkenalan dengannya menemani perjalanan pulang saya bersama seorang teman. Kami berdiskusi mengenai musik, dan sempat memperdengarkan kepadanya video rekaman PS Mission Voice, dan dia menyukainya. Kesan terakhir adalah ketika K.A sudah tiba di stasiun Jatinegara, Jakarta, dan di dalam K.A terdengar lagu dari Katon Bagaskara yang berjudul “Jogjakarta” mengiringi langkah para penumpang turun. Saya teringat kalimat dari seseorang: “Jogja itu ngangenin” , yah memang Jogja itu ngangenin, dan saya pasti kembali!  J J J





(Katon Bagaskara)
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Add caption


Murah hati adalah sebuah ungkapan yang sering ditujukan kepada orang yang melakukan kebaikan. Jika seorang melakukan kebaikan, orang itu disebut orang yang murah hati. Namun yang menjadi pertanyaannya, apa lawan dari murah hati. Apakah lawannya Mahal hati? Ah, kayak ibu-ibu di pasar saja yang lagi menawar sayuran, hehehe. Kebanyakan orang memberikan makna yang berlawan dengan murah hati ialah iri hati, tinggi hati, kebencian dan lain sebagainya.

Jika melihat kedua tindakan antara murah hati dan lawannya ( iri hati, tinggi hati, kebencian dll), maka seseorang yang tidak melakukan kebaikan (baca:murah hati) pasti akan melakukan tindakan yang menjadi lawannya. Benarkah demikian? Untuk itu kita perlu melihat suatu kasus di dalam Alkitab untuk dipelajari bersama. Bagian yang akan dipelajari adalah Markus 10:25-37.

Bagian ini merupakan sebuah perumpamaan yang diberikan  Yesus kepada seorang ahli Taurat.  Dari perumpamaan inilah terdapat sebuah kasus yang harus dipahami oleh pendengar pada waktu itu. Perumpamaan biasanya hanya menekankan satu inti pesan kepada pendengar yang ada, dan Yesus mencoba  untuk menyampaikan secara baik. Dari cerita tersebut Yesus mengunakan metode “Studi Kasus”. Perumpamaan yang diceritakan Yesus merupakan sebuah studi kasus. Dengan pendekatan ini Yesus menggariskan seluk-beluk salah satu kasus dan mengundang para pendengar-Nya memanfaatkan akal dan imannya. Mereka didorong untuk memikirkan inti persoalannya dan bagaimana memecahkannya.

Menurut Ruth Kadarmanto[1], metode Studi Kasus adalah sebuah kisah atau uraian tentang satu masalah yang disajikan kepada kelompok untuk dianalisis, diolah dan mengusulkan pemecahan. Kepada mereka diberikan pertanyaan-pertanyaan menolong agar percakapan menjadi terarah dan tidak ngawur.

Untuk itu, sebelum kita melihat tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut, sebaiknya kita juga menempatkan diri dalam posisi seorang ahli Taurat yang menerima penjelasan dari Yesus. Dalam kisah yang sudah sering kita baca itu terdapat tiga peran setelah seorang dirampok. Tokoh yang pertama ialah seorang imam. Siapakah imam, dan apa tugasnya? Gambaran imam secara singkat adalah orang yang ahli dalam soal-soal ibadah. Untuk itu diperlukan pengetahuan khusus. Ia memberi bimbingan dan putusan-putusan mengenai soal-soal upacara keagamaan dan hukum. Apalagi kalau ada kasus hukum yang berat. Ia adalah pelaksana dan penganjur pelaksanaan hukum Allah. Ia adalah bapa dan penasehat umat Allah.[2]

Tokoh yang kedua ialah seorang Lewi. Siapakah orang Lewi dan apa tugasnya waktu itu? Gambaran singkatnya, kaum Lewi ialah kelompok yang membantu bertugas di Bait Allah. Tugas orang Lewi adalah menjadi rombongan penyanyi dan pemain musik, membantu para imam dan menjadi penjaga.[3]



Tokoh yang ketiga, dan yang terakhir, sekaligus menjadi klimaks dari cerita ini ialah orang Samaria. Tokoh ini menjadi teladan dalam cerita ini, namun siapakah orang Samaria? Orang-orang Samaria adalah penduduk wilayah Palestina bagian utara. Wilayah itu dahulu adalah wilayah kerajaan Israel utara. Sejak abad 6 S.M ada pertentangan antara orang-orang Samaria itu dengan orang-orang Yahudi yang bertempat tinggal di wilayah Yudea. Pertentangan itu berlangsung terus sampai pada zaman Perjanjian Baru. Pada akhirnya orang-orang Samaria itu dianggap kafir oleh orang-orang Yahudi.[4]



Dari gambaran di atas kita melihat bahwa Yesus ternyata memilih orang Samaria untuk menggambarkan kasih dan ajaran-Nya. Yesus yang adalah seorang Yahudi memakai orang Samaria yang dianggap musuh oleh orang Yahudi untuk menggambarkan praktek kemurahan hati itu. Ini adalah inti pesan dari ceriita “Orang Samaria Yang Murah Hati”. Namun yang ingin dibahas lebih mendalam adalah peran seorang imam dan seorang Lewi.

Dari kisah tersebut nampak jelas bahwa Yesus tidak memilih seorang imam atau pun seorang Lewi sebagai contoh dalam melakukan kebaikan. Sikap yang digambarkan Yesus dalam kisah tersebut ialah kedua orang itu merupakan orang yang tidak peduli dan acuh tak acuh. Banyak yang menafsirkan kisah itu dengan mengatakan kedua orang itu sedang terburu-buru ingin melakukan tugasnya di Bait Allah. Sebagian lagi mengatakan bahwa kedua orang itu tidak ingin menolong karena mereka juga takut dirampok dan dipukuli; takut membahayakan jiwa mereka. Jelasnya Alkitab menceritakan bahwa kedua orang itu tidak peduli. Keadaan terpuruk dari yang dirampok itu dilewatinya begitu saja. Respon dari seorang imam ialah “melewati dari seberang jalan” (ay 31). Seorang Lewi pun demikian, “melewati dari seberang jalan” (ay 32).

Jika demikian, apa lawan dari murah hati? Iri hati kah, tinggi hati kah, kebencian, atau apa? Jelas, dari perumpamaan yang dikisahkan Yesus tidak diceritakan tentang respon dari seorang imam atau pun seorang Lewi yang membenci kepada korban perampokan atau tinggi hati, apalagi iri hati. Orang sudah sekarat kok masih dibenci, sudah dirampok kok kedua orang itu masih iri? Kayak orang nggak waras aja !

Dari respon kedua orang ini ialah dapat dijawab bahwa lawan dari murah hati bukan membenci, iri hati, atau tinggi hati, apalagi mahal hati (hehehe tambahan sendiri). Lawan dari murah hati ialah sikap apatis. Sikap apatis ialah acuh tak acuh dan tidak mau peduli dengan orang lain. Sikap ini biasanya dianggap sikap yang netral (status quo) untuk tidak menentukan pilihan antara berbuat baik dan berbuat jahat; antara mengasihi dan membenci; antara murah hati dan tinggi hati. Justru sikap inilah yang paling berbahaya diantara kedua pilihan ekstrim di atas. Kedua tokoh menjadi apati pengamat[5] dalam kisah tersebut.

Dari kisah di atas memberikan pelajaran bagi kita untuk menghindari sikap tersebut sebagaimana yang dikisahkan Yesus. Yesus menyuruh ahli Taurat dalam diskusi itu untuk meniru perbuatan dari orang Samaria dalam perumpamaan itu, dan bukan menjadi seorang apati pengamat seperti kedua tokoh yang bertugas di Bait Allah itu.

Tidak ada posisi netral sebagai seorang Kristen. Jika mengetahui yang baik, lakukanlah itu. Banyak yang menilai seseorang melakukan dosa karena orang itu “melakukan” sesuatu perbuatan yang tidak baik, tetapi tidak melihat karena orang “mengabaikan” sesuatu yang seharusnya dilakukannya. Sebagaimana yang dituliskan dalam Yakobus 4:17 “ Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa".




[5] Sebuah istilah psikologi yang dikenakan kepada orang yang hanya mengamati sebuah peristiwa tanpa mau melakukan aksi.


[4] Ibid hlm 338-339.


[3] Ibid hlm 324.



[2] Wahono Wismoady, Disini Kutemukan, hlm 193, BPK Gunung Mulia.





[1] Ismail Andar (penyunting), Ajarlah Mereka Melakukan, hlm 98, BPK Gunung Mulia.
Di dalam bahasa Inggris ada istilih fidelity dapat diartikan dengan kesetiaan. Juga sebaliknya infidelity diartikan dengan ketidaksetiaan. Secara morfologi (studi mengenai kata dan pembentukan kata), kata ini (fidelity) berasal dari bahasa Latin fide yang berarti iman. Dalam istilah musik, suara streo yang baik sering disebut hi-fi, singkatan dari high fidelity yang berarti kesetiaan yang tinggi. Alat penguat musik yang baik mampu mengeluarkan semua suara alat musik setepat aslinya, bukan suara trompet seperti trombon; biola seperti organ; gitar seperti ukulele, atau suara manusia seperti suara burung. 

Kesetiaan seringkali dihubungkan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan ciptaan yang lainnya. Misalnya saja cerita dalam film Hacikho yang menggambarkan kesetiaan seekor  anjing pada pemiliknya. Namun pernahkah kita menghubungkan kata “kesetiaan” ini dengan Tuhan? Barangkali kita akan malu menjawabnya. Kita seringkali tidak setia kepada Tuhan. Ketika berjanji untuk  hidup menjadi orang baik, eh ternyata hanya keburukan hidup yang kita tunjukan; ketika berjanji untuk tidak membicarakan keburukan orang lain (gosip) malah sebaliknya, kita banyak menghabiskan banyak waktu untuk bergosip. 

Bangsa Israel adalah umat pilihan (Qahal Yahweh), dan sebagai “Bangsa Pilihan” ada perjanjian diantara keduanya. Tentunya perjanjian ini dibuat oleh Tuhan sendiri, karena Israel dipilih merupakan sebuah Anugerah. Isi perjanjian tersebut adalah : Allah (Yahweh) menjadi Allah mereka, dengan demikian Allah bertanggung jawab menjaga, memelihara, melindungi, dan mengajar bangsa Israel. Ini dilakukan dengan setia. Sedangkan Israel sebagai Umat Pilihan bertanggung jawab untuk hidup menurut kehendak Tuhan.

Namun, dalam kenyataan perjanjian tersebut berjalan berat sebelah. Allah melakukan tugas-Nya, sedangkan Israel melalaikannya; Allah setia dan Israel berkhianat. Sungguh ironis, namun apakah Allah juga akan berkhianat dengan perjanjian tersebut? Tidak! Karena Dialah Allah, maka Dia tetap bertahan untuk setia dalam memelihara, melindungi, menjaga dan terlebih mendidik bangsa tersebut hingga tidak sampai dimusnahkan.

Sungguh sebuah kisah kasih yang agung, dimana Allah mau terus setia menghadapi Bangsa Pilihan-Nya yang tegar tengkuk. Sebuah high fidelity yang ditunjukan. Sebagaimana juga yang dilukiskan oleh Pemazmur tentang kesetiaan Tuhan yang tinggi dalam Mazmur 57:11 “ Sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.

Terlalu dini manganggap Tuhan tidak ada dalam hidup kita atau telah pergi ketika kita mendapat ujian dalam hidup ini. Tuhan ada bersama kita, baik dalam susah maupun senang, itulah sebabnya Dia dinamakan Imanuel (Allah beserta kita). Masalah dalam hidup tidak harus membuat kita menganggap bahwa Tuhan telah meninggalkan kita, tapi sebaliknya, kita harus menyadari bahwa kita yang menjauh dari Dia. Dia tetap ada dan setia.

Paulus mengatakannya di dalam 1 Korintus 10:13 “ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya".

Ada sebuah kisah menarik tentang kehidupan Ibu Teresha. Ibu Teresha adalah seorang suster yang melayani di Kalkuta (India) yang banyak penduduknya dan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi. Suatu ketika dia ditanyai oleh seorang pemuda: “ibu Teresha, Anda sudah melayani banyak orang sakit dan miskin di Kalkuta, tapi tahukah Anda bahwa masih banyak juga orang yang sakit dan miskin di Kalkuta. Itu berarti pelayanan yang Anda lakukan tidak berhasil!” Ibu Teresha pun menjawab pemuda itu “Anakku saya terpanggil bukan untuk menjadi seorang pelayan yang berhasil, tetapi menjadi seorang pelayan yang setia”. Ini merupakan sebuah kisah inspirasi dari sebuah respon keyakinan tentang kesetiaan yang tinggi terhadap Tuhan.

Melalui kesetiaan Tuhan, kita belajar untuk terus taat kepada-Nya. Melalui kesetiaan Tuhan juga, kita belajar untuk setia dengan siapa kita berjanji untuk setia. Semoga Tuhan memberikan kita kemampuan untuk memiliki high fidelity.



(LAGU: NKB 34 SETIAMU, TUHANKU, TIADA BERTARA)

1.  SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara
di kala suka, di saat gelap.
KasihMu, Allahku, tidak berubah,
‘Kaulah Pelindung abadi tetap.
Reff:
SetiaMu Tuhanku, mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas.
Yang ‘ku perlukan tetap ‘Kau berikan,
sehingga akupun puas lelas.

2.  Musim yang panas, penghujan, tuaian,
surya, rembulan di langit cerah,
bersama alam memuji, bersaksi
akan setiaMu yang tak bersela. (kembali ke Reff)



3.  DamaiMu ‘Kau beri, dan pengampunan
dan rasa kuatir pun hilang lenyap,
kar’na ‘ku tahu pada masa mendatang:
Tuhan temanku di t’rang dan gelap. (kembali ke Reff)