Wise People Never Stop Learning

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (Lukas 2:11)

Joseph Mohr, pengarang syair lagu ini lahir di Salzburg, Austria, tahun 1792. Selagi masih anak muda ia sudah menyanyi di gereja katedral di kota kelahirannya itu. Tahun 1815 ia sudah diangkat menjadi imam di gereja Katolik dan melayani beberapa jemaat di wiliyah itu.

Pastor Mohr dan Franz Gruber, guru menyanyi dan pemain organ di kota itu sering membicarakan bahwa belum ada nyanyian Natal yang baik. Pada suatu kali menjelang Natal organ di gereja mereka rusak dan tidak dapat dipakai pada perayaan yang sudah dekat itu. Pastor Mohr memutuskan akan mengusahakan satu lagu baru yang tidak usah diiringi dengan organ. Dengan demikian diharapkan jemaat tidak akan kecewa karena merayakan Natal tanpa organ.

Setelah selesai mengarang syairnya, Pastor Mohr membawanya ke Franz Gruber. Begitu melihat syair itu, dengan suara gembira ia mengatakan: “Saudara Mohr, ini dia! Ini nyanyian yang pas untuk Natal, puji Tuhan” segera Franz Gruber menulis melodinya yang cocok sekali dengan jiwa syairnya. Berdua mereka menyanyikan lagu yang baru itu, diiringi dengan gitar di tangan Gruber. Seluruh jemaat terharu mendengar lagu itu, sederhana tetapi merdu sekali dan menyentuh hati dan jiwa.

Pastor Mohr dan Franz Gruber gembira dapat membuat hati anggota jemaat mereka bahagia. Tidak terpikir bagi mereka bahwa lagu itu akan meluas. Tatapi Karl Maurachen, yang datang memperbaiki organ gereja itu minta satu lembar dari lagu itu dan tak lama kemudian sudah tersebar di seluruh wilayah Tirol. Sesudah itu sekelompok paduan suara anak memperkenalkannya di seluruh Austria dan Jerman. Sekarang seluruh dunia memakai lagu itu dan sudah menjadi lagu yang selalu dinyanyikan pada perayaan Natal di seluruh dunia.


(Dikutip dari buku Dr. Alfred Simanjuntak “Kisah Kidung”)

Elegi Seorang BASETA

Kesombonganmu mengatasi langit
Walau bumi menjadi pijakanmu
Hikmatmu selalu ingin didengar
Walau terkadang ditertawai sinis

Langkahmu berjalan menuju kekosongan
Dan lidahmu sebagai senjata pemanis
Pengetahuanmu begitu ajaib
Seakan seisi dunia berada dalam otakmu

Apa yang tidak kamu tahu?
Siapa yang tidak ingin mendengarmu?
Sungguh hebat wahai sobat, semua buatan tanganmu
Kini ijinkanlah aku menyapamu BASETA
Yah, engkalauh BASETA
Engkaulah Bapa Segala Tahu



TAK ‘KU TAHU ‘KAN HARI ESOK

YAKOBUS 4:13-17

Memasuki tahun baru banyak orang yang ingin membuat suatu komitmen, baik terhadap dirinya sendiri atau kepada orang lain. Hal ini juga disebut dengan istilah resolusi tahun baru. Biasanya orang melakukan resolusi tahun baru di bulan Januari. Mengapa bulan Januari? Karena bulan Januari adalah bulan pertama untuk mengawali tahun.

Bulan Januari ternyata memiliki cerita tersendiri. Januari yang dalam bahasa Inggris January berasal dari bahasa Yunani ‘Janus’. Menurut kepercayaan orang Romawi, Janus adalah dewa berwajah dua atau juga disebut dewa permulaan. Wajah yang satu menghadap ke tahun yang lalu dan wajah yang lain menghadap ke tahun yang baru. Singkatnya Janus adalah dewa permulaan yang menghubungkan tahun yang lalu dan masa yang akan datang. Itulah mengapa bulan Januari dianggap sebagai moment untuk melakukan resolusi setelah natal melakukan refleksi.

Tentunya sebuah rencana sudah disusun sebaik mungkin sebelumnya oleh setiap orang untuk mencapai targetnya di tahun yang baru. Namun kita perlu belajar dari Yakobus jika kita berbicara mengenai rencana. Yakobus 4:13 memberikan kita sebuah imajinasi tentang orang yang merencanakan sesuatu. Rencana itu dirancang secara jelas. Mengenai hari, tempat tujuan, berapa lama tinggal, untuk apa tinggal, dan apa yang ingin dicapai. Jelas bahwa ini merupakan perencanaan yang matang. Menjadi pertanyaan untuk kita ialah apakah salah jika kita merencanakan sesuatu?

Merencanakan sesuatu jelas bukan merupakan hal yang salah, yang salah ialah jika kita merencanakan sesuatu dan melupakan atau tidak melibatkan Tuhan di dalamnya. Mengapa hal tersebut salah? Inilah pertanyaan yang penting. Menjadi suatu kesalahan  jika tidak melibatkan Tuhan dalam rencana kita karena Tuhanlah yang berkuasa atas hidup kita; Dialah penyelenggara hidup ini. Kita adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan (ay.14). kita tidak tahu akan hari esok, seandainya kita tahu, kita pun tidak dapat menguasinya. Hidup kita bagaikan uap di mata Tuhan yang berkuasa.

Yakobus jelas memberikan peringatan serta teguran bagi orang-orang yang merasa diri ‘hebat tanpa Tuhan’. Mengawali sesuatu yang baru dan penuh dengan misteri hidup, tentunya kita membutuhkan pegangan hidup yang kuat. Biarlah Tuhan yang memegang dan menuntun hidup kita dalam mengawali tahun yang baru ini. Biarlah Tuhan sendiri yang berencana di atas setiap rencana-rencana kita. Dengan ketetapan hati dan mempercayakan kehidupan kita sepenuhnya kepada Tuhan, maka marilah kita menyanyikan dan merenungkan PKJ 241 sebagai penguatan iman.

Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok
Namun langkahku tegap
Bukan surya kuharapkan
Karena surya kan lenyap
O tiada ‘ku gelisah
Akan masa menjelang
‘Ku berjalan serta Yesus
Maka hatiku tenang
Reff:
Banyak hal tak kufahami
Dalam masa menjelang
Tapi t’rang bagiku ini
Tangan Tuhan yang pegang

LANGKAHKU

Fajar pagi telah hadir mengusir pekatnya malam
Bersama harapan mengajak langkah
Menepis keraguan bersama angin
Meski gelora hati terus berlanjut

Langkah kecil akan kuayun
Hingga lelah kuberteriak
Tiada teman menemani
Namun di hati tetap kau hadir

Bersama doa aku menghilang
Bersama rindu aku kembali
Seakan semua misteri hidup berpadu
Antara kelamnya masa lalu
Dan indahnya masa depan

Ada waktu mengawali bersama
Ada waktu mengakhiri sendiri
Di kotamu kuhadirkan sejuta tawa
Walau mungkin batin terluka

Semoga kau ditemani senyumku
Walau dalam khayal dan mimpi
Dalam balutan rindu yang terpendam
Biarlah cintamu meredam kisah berlanjut.


KASIH TUHAN YESUS

1) KasihMu Tuhan Yesus
Kepada diriku
Melebihi Samudera
Kurasa dalamnya

2) Oh betapa diriku
Berulang bercela
Kasihmu terungkaplah
Dalam anugrahMu

        3) Ku mau hidup bagiMu
          Oh Yesus Tuhanku
          Tolonglah aku Tuhan
           Kuatkan imanku



Jogja kota pelajar, slogan ini hampir sudah diketahui oleh sebagian besar orang Indonesia. Selain kota pelajar Jogja juga  disebut kota seniman. Kalau ditanya, Jakarta kota apa? Maka mungkin kita dengan bervariasi memberikan jawaban. Ada yang mungkin bilang ‘Jakarta itu kota banjir’ (gara-gara si komo lewat kali), atau mungkin ada yang bilang ‘Jakarta itu kota macet’.  Gimana nggak macet, kendaraan bermotor banyak banget. Jangankan kemacetan kendaraan, jalan kaki saja bisa macet. Ini saya sendiri alami ketika pergi ke gereja, namun sebelum sampai tempat tujuan jalanan macet. Saya pun bergegas turun untuk berjalan kaki dengan cepat. Hasilnya memang saya tiba di gereja persis ibadah akan dimulai, namun dengan keringat yang cukup banyak terkuras.  Apalagi yang macet di Jakarta selain kendaraan?  Bernapas! Lho, kok bernapas? Bernapas memang aktivitas yang sering dilakukan manusia, namun di Jakarta banyak polusi udara karena banyak kendaraan bermotor dan sebagainya. Hal ini membuat orang yang bernapas di Jakarta juga mengalami ‘kemacetan’ (hehehe)
Add caption

Lalu apa slogan yang tepat buat kota Jakarta? Masa sih hanya slogan-slogan yang negatif seperti rincian di atas? Kalau Jogja kota pelajar, maka Jakarta itu kota belajar! Ya, Jakarta adalah kota belajar! Pernyataan tersebut merupakan pengamatan pribadi selama tinggal di Jakarta. Selama kurang dari dua tahun saya melihat Jakarta merupakan sebuah ‘kota yang sibuk’. Sibuk dengan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Jakarta maupun luar Jakarta. Sebuah penelitian mengatakan bahwa hampir lebih dari setengah bagian orang yang beraktivitas (bekerja/studi) di Jakarta dari pagi sampai malam bukan masyarakat Jakarta. Lebih tepatnya orang Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek).

Kota besar seperti Jakarta merupakan impian banyak orang untuk mencari rejeki, entah secara halal atau haram. Maka tidak heran jika di kota ini banyak terjadi bermacam tindak kejahatan. Pastinya, kehidupan keras di Jakarta membuat orang belajar. Mungkin benarlah ungkapan ‘Ibu Kota lebih kejam dari ibu tiri’
Add caption

Belajar tentang kehidupan memang tak pernah habis-habisnya. Di kota ini saya melihat seorang pengemis beraksi di atas jembatan penyebrangan dengan muka sedih, padahal saya menemuinya di jalan depan dengan wajah yang segar. Ada juga seorang pengamen yang menyanyikan lagu rohani  ‘Smua Baik’ di atas angkot, dan setelah dikasih duit langsung kabur tanpa pamit. Ini contoh orang belajar menyambung hidup di Kota Jakarta yang keras. Ada juga saya temui anak SD yang bangun pagi dan bersiap diri berangkat jam 5 pagi untuk pergi ke sekolah. Bahkan banyak teman gereja saya bekerja dari pagi hingga malam, dan juga melanjutkan kegiatan di gereja setelah pulang kantor. Inilah gambaran orang-orang yang belajar memperjuangkan hidup di Jakarta.

Mobilitas tingkat tinggi yang terjadi di Jakarta menuntut orang untuk bekerja keras dan belajar kreatif dalam segala bidang yang digelutinya. Ya, Jogja memang kota pelajar, namun pelajar belum tentu belajar. Jika ingin belajar tentang kehidupan, datanglah ke Jakarta. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kota ini.

Saya kembali mengenang ketika pertama datang ke Ibu Kota untuk melanjutkan studi. Saya merasa ragu untuk bepergian sendiri. Alasanya, tidak tahu cara naik kendaraan (Trans Jakarta dan Kereta Api) , dan juga takut dicopet. Namun dari berbagai sikap skeptis itulah saya belajar melakukannya. Bahkan dapat melakukan dengan baik. Misalnya saja saya tahu bagaiman trik mendapat tempat duduk di kendaraan umum di saat semua berdiri berdesakan. (hehehe).



Ternyata banyak hal yang saya pelajari dari kota ini. Akan sangat rugi jika seseorang perantau seperti saya yang ingin melanjutkan studi hanya mau belajar secara akademis. Belajar tentang kehidupan di kota ini sangatlah berharga. Untuk itulah saya menikmati kota ini dengan segala tantangannya. Saya juga belajar banyak hal dari GKI Cawang (Gereja Kristen Indonesia) dimana saya berjemaat. Saya belajar tentang persekutuan, belajar dari pribadi dari orangtua-orangtua yang bersemangat, dan juga belajar dari orang-orang muda, bahkan belajar musik dari orang yang bertalenta.

Tentu semua ini merupakan kesempatan dari Tuhan (kairos) bagi saya.
Jakarta adalah Ibu Kota negara dan banyak orang mengadu nasib di situ. Tak peduli berapa lama seseorang tinggal di Jakarta, jika ia mau belajar tentang kehidupan maka ia pasti menemukan arti dari kehidupan itu. Saya sendiri mencoba memberi makna hidup setelah belajar dari kota Jakarta. Jika saya menjadikan “Jakarta Kota Belajar”, maka penduduk Jakarta hendaknya juga demikian.


Hal terakhir yang saya pelajari adalah belajar untuk berpisah. Perpisahan itu mengajarkan banyak hal. Perpisahan mengajarkan tentang arti persahabatan, tentang menghargai waktu yang dilalui bersama. Perpisahan mengajarkan tentang arti hadir seseorang. Sering kita dengan kalimat demikian: “Bukan perpisahan yg kutangisi tapi pertemuan yg kusesali'. Saya tidak menangisi perpisahan ataupun menyesali pertemuan. Bagi saya pertemuan dan perpisahan adalah waktu untuk belajar, dan itu adalah anugerah Tuhan. Belajarlah tentang kehidupan selagi masih diberi kesempatan untuk memaknai hidup. Kiranya Tuhan pemberi hidup itu memberkati kita.

(Foto-foto pelayanan di GKI Cawang)

                                              Pelayanan Paska 2015 di GKI Cawang


Pelayanan Natal 2014 di GKI Cawang


Pembinaan Penatua, Komisi, Badan Pelayanan GKI Cawang di Puncak Bogor



Pelayanan PS Gracia di GKI Surya Utama





Palayana Bulan Keluarga di GKI Cawang 2014
Add caption



Pelayanan Chirtsmas Carol di rumah-rumah (oma-oma) jemaat GKI Cawang 2014.