Jogja Itu Ngangenin

Jogja Itu Ngangenin

Add caption
Ada banyak tempat di Indonesia yang mengesankan dan membuat pengunjungnya menyukai tempat tersebut. Salah satu tempat ialah Jogjakarta. Saya sendiri baru sekali mengunjungi tempat tersebut. Mumpung masih di Jakarta dalam rangka melanjutkan studi, saya pun mencoba untuk berkunjung ke Jogja. Kunjungan saya pada saat bulan November. Kunjungan pertama saya bukan dalam rangka liburan semester, tetapi karena ada tour  Paduan Suara dari Kupang. Hampir sebagian besar anggotanya adalah teman-teman saya.

Saya berangkat dari Jakarta bersama dua rekan saya, salah satu diantaranya pernah studi di Jogja, jadi mengenal tempat-tempat di sana dengan baik. Perjalanan kami menggunakan Kereta Api sehingga cukup lama. Waktu yang tertera di tiket K.A dari Jakarta ke Jogja adalah 8 jam, tapi waktu itu kami terpaksa 12 jam di perjalanan karena ada kesalahan teknis pada K.A. Paling tidak ini merupakan sebuah kesan bagi saya, yah kesan yang kurang menyenangkan karena perjalanan yang tidak semestinya.

Setibanya di Jogja, ternyata rekan-rekan dari Kupang juga baru tiba. Mereka juga menempuh perjalanan yang panjang karena landing di Surabaya lalu melanjutkan perjalanan ke Jogja. Meski dalam keadaan lelah kami tetap saling menyapa dengan hangat sebelum beristirahat. Keesokan harinya jadwal tour mulai dilakukan, dan diguide oleh beberapa teman yang memang menguasai tempat-tempat wisata di Jogja. Mulai dari Candi Borobudur, Prambanan, Gunung merapi, Istana Kraton dan juga tempat belanja seperti Malioboro. Waktu malam pun disempatkan untuk pergi ke alun-alun selatan. Di sinilah saya mencoba berjalan melewati beringin kembar, namun belum berhasil. Hiburan lainnya ialah dengan mencoba mobil blink-blink hasil modifikasi kreatif dari masyarakat Jogja.

Waktu untuk menikmati keindahan alam di Jogja, berbagai hiburan dan berbelanja dilakukan selama 3 hari. Kegiatannya inti berada di hari Minggu. Yah, kali ini saya mengunjungi 4 gereja bersama anggota PS Mission Voice. Mulai dari GKJ Sari Mulyo pada jam 6:30 pagi, Gereja Baptis Indonesia yang mendadak meminta untuk PS Mission Voices bernyanyi tanpa mengikuti kebaktian sebelum berangkat ke GKI Gejayan pada jam 9:00. Geraja yang terakhir adalah GBI The Seed, mulai jam 6 sore, dan berlokasi di dalam kompleks penginapan kami.


Sungguh komplit perjalanan kali ini, wisata alam dinikmati, wisata kuliner, berbelanja, dan terakhir ditutup dengan 'wisata rohani'. Banyak kesan yang diperoleh dari perjalanan pertama ini. Mulai dari naik kereta 12 jam, padahal yang seharusnya 8 jam, bertemu teman-teman, melepaskan kepenatan di tengah-tengah menempuh studi, dan yang lebih berkesan lagi, semuanya itu dilakukan di Jogja.

Lalu apa yang membuat Jogja itu ngangenin? Apakah karena Candi Borobudur atau Prambanan, atau wisata kuliner, atau berbelanja? Pertanyaan-pertanyaan itu mempunyai jawaban tersendiri bagi setiap kita. Saya  pribadi terkesan  dengan banyak hal yang ada di Jogja. Mulai dari tempat-tempat wisata dengan alam yang indah, kulinernya, kearifan lokal budaya setempat, orang-orang yang kreatif dan juga ramah. Mungkin dari kita ada yang memiliki daftar alasan kenapa Jogja itu ngangenin. Tapi bagi saya, itulah yang saya rasakan. Jogja memberikan kesan pertama yang indah bagi saya, dan tak perlu lagi banyak alasan untuk kembali ke kota yang indah ini.

Jogja adalah Jogja, Jogja bukan Jakarta, atau Kupang, tempat kelahiranku yang tercinta. Jogja memang indah dan ngangenin, tapi itu tidak berarti bahwa saya membandingkan Jogja dengan Kupang. Laksana mentari pagi yang terbit di ufuk timur dan terbenam diufuk barat, demikian juga kita, tidak dapat memilih di mana kita lahir, namun kita dapat memilih ke mana kita akan pergi. Kupang adalah tempat kelahiranku dan Jogja adalah tempat yang kupilih untuk pergi.


Perjalanan pulang saya kembali ke Jakarta menggunakan Kereta Api pada Senin pagi hari, setelah 5 hari berlibur. Dengan keadaan yang sedikit lelah, saya mencoba untuk membaca buku dalam perjalanan. Saya duduk di samping seorang pemuda Belanda yang menyukai musik. Perkenalan dengannya menemani perjalanan pulang saya bersama seorang teman. Kami berdiskusi mengenai musik, dan sempat memperdengarkan kepadanya video rekaman PS Mission Voice, dan dia menyukainya. Kesan terakhir adalah ketika K.A sudah tiba di stasiun Jatinegara, Jakarta, dan di dalam K.A terdengar lagu dari Katon Bagaskara yang berjudul “Jogjakarta” mengiringi langkah para penumpang turun. Saya teringat kalimat dari seseorang: “Jogja itu ngangenin” , yah memang Jogja itu ngangenin, dan saya pasti kembali!  J J J





(Katon Bagaskara)
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Add caption


1 komentar :