Supaya Ahok Tetap Beda

Supaya Ahok Tetap Beda


Add caption
Berikut ini adalah tulisan dari Dr Andar Ismail yang dikutip dari buku Selamat Berpadu, hlm 89-92, Penerbit: BPK Gunung Mulia.

Politik itu kotor. Benarkah? Tidak! Yang kotor bukan politiknya, melainkan orangnya. Tentu tidak semua, namun banyak orang politik menjadi kotor. Mereka menjadi kotor bukan karena berpolitik, melainkan karena terbawa oleh rekan-rekannya.

Apa itu politik? Politik berasal dari kata Yunani polis. Artinya puri, atau kota, atau negara. Politik juga berkaitan dengan kata Yunani polithea. Artinya penduduk, peran serta penduduk, hak dan kewajiban penduduk dalam pengelolaan negara.

Kini politik berarti segala asas dan upaya mengelolah negara serta segala asas dan upaya menyalurkan aspirasi penduduk terhadap cara pengelolaan negara. Politik adalah berbagai urusan, kebijakan, dan tindakan mengenai pengelolaan negara. Politik menyangkut kekuasaan, yaitu cara memperoleh, cara menggunakan, dan cara mengawasi kekuasaan.

Apakah gereja berpolitik? Ya! Sejak awal gereja sudah berpolitik. Pengakuan Iman Rasuli yang kita ucapkan tiap minggu berasal dari sebuah pernyataan politik. Pada abad pertama pengakuan itu berbunyi, “Kurios Iesous Khristos!” artinya, “Yesus Kristus adalah Tuhan!”. Pada zaman itu semua orang mengaku bahwa kaisar adalah kurios. Kurios berarti dia yang mempunyai dan menjalankan kekuasaan mutlak untuk memerintah. Akan tetapi, gereja menolak kemutlakan kuasa kaisar. Bukan kaisar, ,melainkan Kristuslah yang berkuasa penuh atas pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Oleh sebab itu, gereja mengaku, Yesus Kristus adalah Tuhan.

Dengan berkembangnya waktu, sejarah gereja penuh dengan lembaran kelam tentang kotornya gereja ketika gereja ikut berpolitik. Sebaliknya pun tentu banyak. Ada banyak orang Kristen yang terlibat aktif dalam politik secara bersih dan mengabdi untuk kepentingan rakyat.

Di negara kita pun terdapat kasus buruk tentang orang-orang Kristen yang berpolitik secara kotor. Namun sebaliknya, banyak pula tokoh Kristen di dunia politik menjadi saksi Kristus melalui kejujuran dan pengabdiannya. Mereka berbeda karena mereka bersih sampai akhir. Beberapa contohnya adalah   Johannes Leimena, Ignatius Kasimo, T.B. Simatupang, W.J. Rumambi, Basuki Probowinoto, Yap Thiam Hien, Radius Prawiro, Benny Moerdani, Fransiscus Xaverius Seda, Lieng Beng Giok Suryadinata, dan banyak lainnya.

Mengapa terdapat risiko menjadi kotor jika aktif berpolitik? Oleh karena politik menyangkut kekuasaan dan kekuasaan mudah disalahgunakan. Penyalahgunaan kekuasaan bisa terjadi dalam banyak bentuk. Misalnya, hanya mementingkan golongan atau parpolnya sendiri. Menggunakan kedudukan untuk memperkaya diri atau kerabat. Membiarkan pembiaran ketika terjadi ketidakadilan atau diskriminasi. Bukan berpihak pada yang benar, melainkan pada pihak yang besar. Kinerjanya lebih bertumpuh pada mencitrakan diri dan melanggengkan kedudukan. Membohongi publik dengan data yang dipoles. Hanya bersilat lidah dan berwacana, sedangkan prestasi minim.

Itulah peliknya berpolitik bagi orang yang tetap mau taat kepada Kristus. Sulit untuk tidak basah ketika bermain air dan tidak hangus ketika bermain api. Oleh sebab itu, mereka yang aktif berpolitik memerlukan dukungan dan doa kita agar mereka bijak-bijak menjaga diri dari kekotoran di sekitarnya.

Sebelum melepas para rasul-Nya, Yesus mendukung mereka dengan doa, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yoh 17:15, TB-2). Kristus mendoakan agar para rasul berada di dunia, namun berbeda dengan dunia, yaitu tidak ikut jahat seperti dunia. Kita disuruh Kristus untuk ada di dunia dan senantiasa berinteraksi dengan dunia, namun dunia tidak boleh ada di dalam kita. Sama seperti perahu ada di air, namun air tidak boleh ada di perahu.

Wakil Gubernur DKI Jakarta (tambahan: sekarang Gubernur), Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, pernah menulis di Kompas tentang tantangan khusus yang dihadapinya sebagai pengikut Kristus di bidang politik. Dengan reputasi sebagai bupati yang berhasil dan bersih di Belitung, ia maju di pilkada DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo yang juga punya reputasi berhasil dan bersih sebagai walikota Solo. Sejarah mencatat fenomena yang jarang terjadi ketika mereka menang dalam pilkada itu meskipun didera “kampanye hitam” yang menjelekkan mereka dengan isu etnik dan agama, karena Ahok beretnik Tionghoa dan beragama Kristen.

Dalam tulisannya itu Ahok menyebut tantangan kepada orang politik yang terilhami cerita Alkitab. Misalnya keberanian mengambil keputusan yang berisiko dan tidak populis. Lalu empati dan pengorbanan. Allah yang mau menjelma dan turun ke dunia merupakan teladan dan dorongan untuk kita berempati dan berkorban bagi mereka yang kurang beruntung.

Sebagai pembaca setia Seri Selamat, Ahok mengacu ke buku Seri Selamat. Tentang empati Allah itu Ahok menulis, “... bahkan lebih jauh dari turun tangan, seperti kata Andar Ismail dalam bukunya, Tuhan mengajak manusia berjabat tangan, memberi hak istimewa untuk manusia ikut ambil bagian dalam rencana kerja-Nya.”

Ahok termotivasi berpolitik oleh sikap Kristus sepanjang hidup-Nya yang selalu adil kepada si kecil. Tulis Ahok, “... sepanjang perjalanan-Nya, satu benang merah yang tidak pernah hilang adalah keadilan, keadilan untuk umat manusia, keadilan untuk yang tertindas, keadilan untuk yang sakit, keadilan untuk yang tidak mampu, keadilan untuk yang diinjak, keadilan untuk anak kecil, keadilan untuk pemungut cukai ...”

Sejumlah analis politik menilai terpilihnya Jokowi dan Ahok bukan sekedar kemenangan untuk kedua orang itu, melainkan kemenangan untuk kehidupan berdemokrasi di Jakarta karena terbukti bahwa penduduk Jakarta sudah lebih matang sehingga tidak termakan oleh “kampanye hitam” mengenai etnik dan agama. Itulah fenomena yang disambut gembira oleh para analis politik.

Namun, bagi gereja fenomena itu bukan hanya menggembirakan, melainkan juga mengerikan. Kita ngeri bahwa tokoh yang bersih akan ikut tercemar menjadi kotor. Kita khawatir bahwa orang Kristen yang berpolitik bukan mempermuliakan Tuhan, melainkan justru mempermalukan Tuhan. Oleh sebab itu pengikut Kristus yang jadi orang politik memerlukan pembekalan etika dari gereja. Kita sungguh mengharapkan agar mereka memulai masa jabatannya secara bersih akan tetap bersih sampai akhir (lih. Bab “Bersih Sampai Akhir?” di buku Selamat Mewaris).

Itulah perasaan umat tentang kehadiran tokoh-tokoh Kristen di bidang politik, baik di daerah maupun di pusat. Kita gembira namun juga cemas. Kita berharap supaya makin banyak Ahok-Ahok terjun ke bidang politik. Makin banyak? Salah! Yang penting bukan banyaknya, melainkan mutunya. Meskipun sedikit, yang penting mereka berbeda, yaitu bersih! Dan yang lebih penting lagi supaya mereka tetap berbeda dan bersih.






0 komentar :

Posting Komentar